ISSOM 2018 RD.2 : WAR ZONE

ISSOM atau Indonesian Sentul Series Of Motorsport seri ke-2 kembali lagi ke lintasan Sentul International Circuit pada tanggal 27-29 April 2018 yang lalu. Dan seperti yang saya duga, medan pertempuran di lintasan sepanjang 4,12 km akan menjadi semakin on fire karena banyaknya dog fight  para pembalap yang tampaknya hanya membutuhkan pemanasan di seri 1 untuk menemukan setingan yang pas pada mobilnya.

ABM Motorsport yang pada musim balap tahun ini berubah nama menjadi ABM Racing Team menurunkan sekitar kurang lebih 25 mobilnya yang  memenuhi sekitar 6 pit dan bertarung di hampir seluruh race yang di lombakan

Satu mobil yang menarik perhatian saya adalah sebuah Mercedes Benz W202 yang di piloti oleh Dodi Saputra ini. Dimana tampilan dan aero kit nya mengadopsi atau mirip dengan Benz yang bertarung di ajang DTM atau Deutsche Tourenwagen Masters di Jerman sana. Bahkan rims nya sendiri dipilih yang berbentuk turbofan wheels ala DTM era 90’an.Disamping pit ABM Motorsport, ada pit Jakarta Ban Motorsport yang mampu membuat hati saya deg-degan ketika saya curi curi pandang ke dalam pit toko ban ini. Ya bisa dibilang ini kah namanya cinta? Setiap kali memandang si Porsche Carrera itu. Livery yang biasanya berwarna orange dan putih ini, bertambah lagi dengan warna biru bersamaan dengan masuknya sponsor utama dari perusahan minyak plat merah Indonesia.

Ada satu tren yang lagi ngehits di musim balap 2018 ini, yaitu pemasangan sticker pada bagian atap atau roof pada mobil balap. Yang tidak semua orang tahu kalo ada sticker tersebut diatas mobil tersebut karena letaknya tak tampak. Seperti pada pasukan mobil Peugeot dari Ganteng Racing Team, yang memasang nomor start segede gaban beserta nama team mereka.

Ah…party boy a.k.a The Marshmello. Yang pasti owner dari Honda Civic EF atau Nouva, yaitu si Novinsyah dari AP Speed so pasti seorang party boy.

Dan yang terakhir adalah M. Fadil dari Jakarta Ban Motorsport dengan gambar Bart Simpson pada roof Mercedes W201 190E Cosworth nya. Walaupun yang bisa melihatnya dari atas atau cameramen yang pakai helikopter ala Formula one. Tapi saya salut atas ide dan kreasi mereka untuk menyuntik dunia motorsport Indonesia menjadi lebih berwarna. Dan adalah tugas saya untuk menyampaikan pesan dari para pembalap tersebut kepada Anda yang  ada dirumah, supaya bisa menjadi inspirasi untuk Anda.

Jika pada jaman dahulu persaingan pembalap dan mekanik hanya sampai pada sebatas mesin dan suspension saja, yang mana peta kekuatannya sudah mulai imbang. Kini peta pertempurannya berpindah kepada bagian mobil yang paling pintar, yaitu otaknya alias ECU. Jika musim yang lalu brand Motec bisa dibilang barang yang langka dan wah, maka di musim balap 2018 ini ECU stand alone ini menjamur dihampir setiap mobil balap di Sentul. Ada 2 pendekar sakti yang selalu berada dibalik laptop pada setiap mobil balap yang menggunakan ECU ini, yaitu Ovi Sardjan dan Julius Kertapati atau yang lebih dikenal dengan code name Togi.

Satu yang pasti di ISSOM, tiap mekanik pun memutar otak untuk bisa membuat pembalapnya nyaman di dalam cockpit, terutama tahan banting dari yang namanya suhu panas. Selain kenyamanan posisi mengemudi, salah satu faktor yang mempengaruhi fisik dan psikologis atau mental sang pembalap adalah suhu cockpit. Terutama bila Anda race di musim kemarau atau endurance race. Jadi crew mekanik R Speed Racing Team memasangkan extra fan berukuran jumbo yang sekilas tampak seperti sebuah speaker ajeb-ajeb pada pintu sebelah kiri Civic FD2R nya Ricky.

Yang pasti musim baru, mobil baru, tentu saja baju baru. Saya pun beruntung mendapatkan salah satu dari koleksi t-shirt BMW Z4 GT3 yang diberikan langsung oleh owner dari Privat Auto Garage yaitu Posma Panggabean. Danke…

Sementara team pabrikan seperti Toyota Team Indonesia – TRD  sendiri, musim baru adalah musim untuk menampilkan mobil baru andalan mereka, yaitu All New Toyota Yaris. Mobil yang merupakan flagship Toyota di Indonesia ini memang terlihat cantik dari generasi sebelumnya, namun satu sisi terlihat gemuk. Mungkin akibat beberpa parts TRD Sportivo yang nancep di body Yaris generasi ke-3 ini. Dimana mobil pada musim balap tahun lalu tidak mengadopsi option body kit TRD Sportivo nya

Ibaratnya pepatah yang mengatakan “With Great Power Comes Great Responsibility”, yang kalo saya artikan di balik mobil balap pabrikan terdapat pembalap handal di balik kemudinya. Well, di musim balap 2018 ini , TTI-TRD pun menambah pembalapnya menjadi 3 orang. Dimana ada Demas Agil yang juga merupakan pembalap TTI-TRD di ajang Gymkhana ditarik ke balap touring untuk melengkapi formasi duet maut Haridarma Manopo dan Alinka Hardianti.

Saya pun sempat mengumpulkan tiga pembalap ini untuk saya  direct dan photo session bersama Perfourm. Hasinya, yang jelas Three Musketeers TTI-TRD ini never go out of style. Dan mereka pun sudah menyalakan alarm untuk para pesaing mereka di Kejurnas ITCC 1600 Max,  karena mereka akan menyapu bersih 3 podium tanpa tersisa. Terutama team pabrikan Honda Racing Indonesia yang pada musim balap tahun lalu mahkota Juara Nasional Alvin Bahar (Honda Racing Indonesia) direbut oleh Haridarma Manopo.

Dari berkeliling pit Sentul, kini kita masuk ke dalam lintasan. Dimana race pertama yang di jadwalkan  pada hari Jum’at (QTT) dan Minggu (Race), yaitu BMWCCI One Make Race. Adrian Rasyadi dari Ecurie Cinere dengam BMW E36 nya harus puas berada di posisi juru kunci, yaitu posisi ke-8 (overall). Sementara di rookie class, dia berhasil berada di posisi ke-5 dengan best timenya 2:11.473

Dari BMWCCI kita beralih ke MB Club INA Race Championship. Dimana Vidi Achmad Dwiputra sedikit bersemangat memacu W124/300E nya ketika keluar dari tikungan hingga mengakibatkan dia bersideways ria. Hasilnya Vidi pun harus puas berada di posisi ke-7 (overall), namun dia berhasil merebut podium 1 di kelas Einspritzen 4 dengan best timenya 1:57.133

Dodi Saputra dari ABM Racing Team dengan Mercedes Benz W202 /320 menjadi pembalap yang tercepat di MB Club INA Race Championship ini. Dia pun berhasil finish terdepan dan menorehkan best time 1:53.181. Dodi pun berhasil merebut podium 1 di kelas SC-6 Avantgarde

Japan Super Touring Championship pada seri ke-2 ini di ikuti oleh sebanyak 21 pembalap, dimana  terdapat 1 pembalap baru atau new kids on the block di race kali ini, yaitu James Rivai dari Tribco Racing Team. Ada pemandangan yang unik sebelum para pembalap masuk ke dalam track. Sebanyak 21 pembalap ikut menandatangani spanduk yang bertuliskan ” Saya Indonesia” Saya Anti HOAX dengan tambahan hastag #IndonesiaDamai. Dimana tujuan dari spanduk tersebut menunjukkan bahwa JSTC semua pembalapnya adalah satu, yaitu Indonesia Raya. Tanpa ada perbedaan suku, ras, dan agama. Dimana mereka mendukung keutuhan NKRI dari maraknya berita HOAX yang bersifat memecah belah persatuan NKRI. Ide ini datang dari salah satu pembalap JSTC yaitu Dwi Irianto  yang juga merupakan salah satu pelindung JSTC.

Race pun dimulai dengan Avan Abdullah dari Tiegan Wisesa BKRT dengan EG6 nya yang berada di grid 1 atau P1 dengan best timenya yang cukup sensasional, yaitu 1:43.959. Di ikuti oleh Amandio dari ABM Racing Team di posisi ke-2. Dan di posisi ke-3 ada Luckas Dwinanda dari Gazpoll Racing Team dengan Honda Super Brio yang berusaha merebut posisi ke-2 dari tangan Amandio. Sementara M. Herdy harus puas berada di posisi ke-4 di belakang Luckas Dwinanda. Namun posisi pun berubah pada lap ke-5, dimana Avan out dari race akibat kerusakan mobilnya. Sehingga membuat Luckas yang sebelumnya berhasil merebut P2 dari tangan Amandio, kini berada di posisi terdepan.

Luckas pun akhirnya berhasil finish terdepan atau pertama setelah start dari grid ke-3 dalam race sebanyak 9 lap ini dengan best timenya 1:45.001. Membuat pembalap dari Gazpoll Racing Team ini merebut podium 1 di kelas JSTC 2A dan podium 1 di open class atau overall mengungguli Amandio yang finish ke-2.

Masuk ke European Touring Car Championship atau Euro 2000, Romy Tahrizi dari Ganteng Racing Team dengan Peugeot 306 GTI nya harus mengakui keunggulan pembalap muda Gerhard Lukita ( Master Class) dari ABM Racing Team yang finish di depannya (pertama). Romy pun harus puas finish di posisi ke-2 (overall), namun dia berhasil merebut podium 1 di kelas Pro Euro 2000 dengan best timenya 1:51.456.

Dan finish terdepan dengan gap atau selisih hanya 0,062 dari Romy, ada pembalap muda Gerhard Lukita dari ABM Racing Team yang tampil gemilang dengan berhasil menyingkirkan Romy yang merupakan pembalap Pro Class pada race kali ini. Walapun anak dari pembalap senior Jimmy Lukita ini merupakan pembalap kelas master, namun dia berhasil meraih P1 atau finish terdepan mengalahkan para pembalap di kelas Pro, sekaligus merebut podium 1 kelas Master dengan best timenya 1:49.275. bahkan saking kencangnya Gerhard pun sampai menikung dengan 3 roda, alias roda depan kanan terangkat akibat menghantam curb.

Di Super Touring Car Championship 2 atau STC 2 (1600-Retro/Super Car Championship). Duel atau dog fight untuk memperebutkan posisi ke-9 (overall), antara Tugimin yang mempiloti Mitsibushi Lancer Caldina melawan Denny Pribadi dengan Toyota Corolla DX KE70 nya. Dog fight yang berlangsung beberapa lap ini pun dimenangkan oleh Tugimin yang berhasil merebut posisi ke-9 dengan best timenya 1:57.641, sekaligus merebut podium ke-3 di kelas STC 1600. Sementara Denny Pribadi berhasil finish ke-10 (overall) dibelakang Tugimin. Namun dia berhasil merebut podium  ke-2 di kelas SCC B2 dengan best timenya 1:58.389

Ferry Yanto Hongkiriwang yang memulai race dari grid ke-9 (1:52.395) berhasil naik 2 peringkat ke posisi ke-7 dalam race sepanjang 35, 685 km ini. Ferry yang mempiloti Evo III ini berhasil finish ke-7 (overall STC 2), namun di Super Car Championship, pengusaha asal kota Luwuk Sulawesi Tengah ini berhasil finish di posisi ke-3 (overall SCC), dan posisi 1 di kelas SCC B2 dengan best timenya 1:56.393

Ah…E30 coupe Left Hand Drive dengan taste ala Ferrari Testarossa. Kenapa? Karena BMW E30 yang dipiloti oleh Sasongko ini aerokit nya mengadopsi side intakes ala Testarossa. Dimana pada Testarossa, side intakes ini berfungsi untuk mengalirkan udara  dingin ke radiator samping dari mesin  boxer 390 hp 12 cylinder atau flat 12 yang berada di belakang (mid engine). Bertarung di kelas STC Retro, Sasongko hanya mampu bertengger di posisi ke-12 (overall), dan ke-4 di kelas STC Retro dengan best timenya 2:06.077

Beralih ke Honda Jazz Speed Challenge, pertarungan sengit terjadi antara 2 pembalap terdepan, yaitu Fitra Eri dari Honda Bandung Center melawan Zharfan Rahmadi dari CEP Minsel yang memperebutkan P1 atau posisi terdepan. Namun selama 12 lap Fitra Eri berhasil menahan serangan dari Zharfan, yang membuatnya berhasil finish 1 dan merebut podium 1  di kelas Master meninggalkan Zharfan di posisi ke-2 dan podium ke-2 kelas Master HJSC. Skor pun 1-0 untuk Fitra Eri.

Medan pertempuran pun beralih ke race  ITCC 1600 (kejurnas), dimana Zharfan yang berhasil merebut P1 atau Pole Position pada saat Superpole (QTT) berhasil meninggalkan barisan  dibelakangnya termasuk Avan Abdullah, Rio SB, dan Fitra Eri yang start dari grid ke-5. Namun perlahan-lahan Fitra pun mulai mendekati Zharfan di lap-lap akhir. Hingga akhirnya Fitra Eri berhasil melewati drifter tersebut.

Zharfan pun akhirnya harus merelakan mahkota P1 nya direbut oleh Fitra Eri pada lap-lap akhir. Zharfan pun harus puas finish dibelakang Fitra Eri atau ke-2, dan hanya mampu bertengger di podium ke-2 ITCC (Kejurnas) 1:56.969. “ Jam terbang memang ngga bisa bohong mas, dan emang bener itu” kata Zharfan kepada saya ketika saya tanyakan kenapa bisa kesusul padahal gapnya sudah sangat jauh

Dan akhirnya skor untuk 2-0 untuk Fitra Eri, dimana dia berhasil mengalahkan Zharfan 2 kali pada Honda Jazz Speed Challenge dan Indonesia Touring Car Championship (Kejurnas). Walaupun pada lap-lap awal dia sempat kedodoran akibat start dari grid ke-5, namun mulai lap pertengahan hingga akhir dia berhasil menyodok maju barisan depan hingga akhirnya berhasil merebut P1 dari tangan Zharfan. Fitra pun berhasil finish 1 dan juga merebut podium 1 ITCC (kejurnas) dari tangan Zharfan dengan best timenya 1:56.833

Sama seperti Zharfan dan Fitra Eri, pertarungan sengit pun terjadi antara ke-2 pembalap AP Speed di Honda Brio Speed Challenge dan Indonesia Touring Car Championship (Kejurnas), yaitu Rio R. Bramantio dan Iwan Sidharta. Ke-2 pembalap asal kota Surabaya ini bertempur secara ketat dengan gap yang cukup dekat satu sama lainnya di kedua race tersebut. Namun skor ke-2 pembalap tersebut menjadi 1:1 alias seri, dimana masing-masing pembalap berhasil berada finish di depan di masing-masing race. Rio R. Bramantio yang pada HBSC berhasil finish di depannya Iwan Sidharta atau ke-22 (overall, campur dengan HJSC), atau ke-4 di HBSC. Berhasil naik ke atas podium ke-2 di kelas HBSC Promotion dengan best timenya 2:04.235. Namun di ITCC (kejurnas), Rio yang start 2 grid (9) di depan Iwan (11). Terpaksa harus kalah dalam pertarungan selama 12 lap bersama rekan satu teamnya Iwan yang berhasil merebut posisi ke-9 dari tangannya. Rio pun hanya mampu bertengger di posisi ke-4 di kelas ITCC 1200 dengan best timenya 2:05.134

Hafiz Muhamad Boutros Hadi  berhasil finish di posisi ke-8 (overall), namun di kelas HSJC rising star, dia berhasil merebut podium ke-3 dengan best timenya 1:58.506

Masuk ke kelas FFA atau Free For All nya mobil natural aspirated, yaitu Super Touring Car 1 (2100 -3500). Dimana pada race atau kelas ini Anda akan bisa melihat pertempuran antara 2 kubu, yaitu mobil Jepang yang hanya berkapasitas 2.0 Lt melawan mobil Eropa sekelas BMW bermesin M3 atau Porsche yang mempunyai kapasitas mesin hampir 1 kali lipatnya (3500 cc).  Disinilah Anda bisa membedakan teriakan mesin Vtec dan Vanos.

Pertarungan sengit pun terjadi antara 2 buah Type R beda generasi ini. Yaitu pertarungan antara Ricky  Karyanata Dianto dengan FD2R nya melawan Radityo  dengan DC5 untuk memperebutkan podium 1 di kelas STC 2100. Dog fight ini pun berhasil dimenangkan oleh Radityo Mahendra yang berhasil finish ke-5 (overall), dan pertama di STC 2100 setelah meninggalkan Ricky yang D.N.F pada lap ke-6. Pembalap ABM Racing Team ini pun berhasil naik ketas podium 1 STC 2100 dengan best timenya 1:48.108

Bahkan saking sengitnya pertarungan antara Ricky dan Radityo, cone yang terletak di area rumput pada bagian dalam R9 (S besar) sampai terlempar akibat Ricky  mencoba masuk lewat dalam sementara Radityo berada ditengah. Akhirnya pihak race director memerintahkan seorang marshal untuk meletakkan kembali cone tersebut pada tempatnya. Cone tersebut diletakkan untuk mencegah para pembalap yang kebanyakan nonton atau meniru Takumi Fujiwara di film nitial D agar “don’t cut” dimana roda sebelah kiri berada disisi gravel, dan yang kanan berada diatas track. Penalty atau sanksinya adalah 30 detik

Benny Santoso yang memulai start dari dalam pit, menggila dengan berhasil menyodok maju sebanyak 27 posisi. Yes guys, start dari dalam pit atau paling belakang, pembalap asal kota Brebes Jawa Tengah ini  langsung melewati sebanyak 27 pembalap yang berada di depannya dalam race sebanyak 9 lap. Pembalap Sigma Speed ini berhasil finish ke-3 overall dengan best timenya 1:46.855. Benny pun berhasil merebut podium ke-3 STC 3600 dan podium ke-2 Porsche/BMW-M3

Dari STC 1 (2100 -3600), para pembalap yang menggunakan BMW atau Mercedes Benz pun tidak diberikan napas sedikitpun, alias langsung kembali line up ke dalam lintasan untuk bertarung di ETCC Euro 3000

Deva dari Axe Dark Gelora Racing terpaksa harus out atau D.N.F (Did Not Finish) pada lap ke-3. Sebelum out pemblalap yang bertarung di kelas Pro ini berhasil mencetak best time 1:51.223

Pada Euro 3000 Promotion Class, A. Zaki yang memulai race dari grid ke-9 berhasil naik 3 peringkat ke posisi ke-6 overall. Pembalap dari team Landy Land yang menggunakan Mercedes Benz W202 ini berhasil merebut podium 1 Euro 3000 promotion class dengan best timenya 1:51.614

Masuk ke Indonesia Retro Race, pertempuran pun terjadi antara mobil-mobil pabrikan 80’an selama 10 lap atau 39,65 km. Izzudin Nur Prasetyo dengan Daihatsu Charmant berusaha merebut posisi ke-9 dari tangan Donny Setiawan dari M Tuning dengan Mitsubishi Lancer SL nya. Namun sayangnya setelah checkered flag  dikibarkan, posisinya pun tak berubah. Izzudin yang turun di kelas 1600 max tidak bisa mendahului Donny yang bertarung di kelas 2000 max. Izzudin pun finish di posisi ke-10 (overall), dan ke-4 di kelas 1600 max dengan best timenya 2:06.465. Sementara Donny finish di posisi ke-9 (overall), namun dia berhasil merebut podium ke-3 di kelas 2000 max dengan best timenya 2:06.927

Esko Apiandev dari Landy Land dengan Toyota Corolla’76 nya hanya mampu bertengger di posisi ke-14 (overall), dan ke-8 di kelas 1600 max dengan best timenya 2:14.743

Sementara Apip Ginanjar dari Speedy Motorsport dengan Toyota Corolla AE86 Levin berhasil menyelesaikan race sepanjang 10 lapnya dengan finish di posisi ke-5. Walaupun dia finish di posisi ke-5 (overall), namun dia berhasil merebut podium 1 di kelas 1600 max dengan best timenya 1:57.638

Indonesia Retro Race bukan hanya mobilnya saja yang retro, namun pembalapnya juga berwajah retro. Jadi tak heran sehabis race dibawah sinar matahari yang cukup terik, para pembalap pun kepanasan dan juga dehidrasi. Seperti pada Peter Reinhart dari Ecurie Cinere

Dan akhirnya race terakhir yang dipertandingkan di Indonesian Sentul Series Of Motorsport, yaitu Old Skool Racing Championship. Dimana Michael Andries dari Gazpol Racing Team dengan Mazda Capela nya terpaksa harus out dari race pada lap ke-6. Sebelum out dari race Michael berhasil mencetak best time 2:31.299

Arie Aumos dengan Mercy Tiger nya yang merupakan peraih P1 atau pole position (2:04.836), terpaksa posisi tercecer kebelakang atau turun 6 peringkat,  hingga akhirnya dia harus puas finish di posisi ke-7. Arie pun mencetak best time 2:05.195

See ya on round 3 guys.Later…

ISSOM 2018 RD.2 : THE KICK OF SEASON !

 

Bayu Sulistyo

IG : @bayusulistyoo

 

*Like us on Perfourm Facebook Fanpage

*Follow us on Instagram: @perfourm

*Hashtags your photo with #PERFOURMMACHINEHEAD, and you can be on Perfourm.com

*Hastags your car project with #BUILDTORACE and #BUILDTOPERFOURM, and you can be on Perfourm.com

Comments

comments!