SLEEPLESS IN KCAR GLOBAL 24H SEPANG ENDURANCE 2017

LeMans 24H bisa dibilang menjadi salah satu life goal saya, namun apalah daya balapan tersebut hanya ada di belahan daratan Eropa (meskipun di Asia ada). Namun sebagai gantinya saya pun mendapat kesempatan untuk meliput dari mini LeMans 24H yang berasal dari Jepang, yaitu KCar Global 24H Sepang Endurance 2017. Sebuah balap mobil endurance selama 24 jam khusus untuk mobil Kei Car atau mobil berkapasitas dibawah 1000 cc. Saya pun disana atas undangan Rio R. Bramantio yang menjadi the one and only wakil dari Indonesia.

That’s right guys, akhirnya mimpi saya terwujud bisa meliput balap ketahanan selama 24 jam di Sepang International Circuit Malaysia pada tanggal 18-19 November 2017 yang lalu. Di barisan grid depan di isi oleh Kei Car Malaysia, seperti Perodua Kancil atau Daihatsu Ceria, Daihatsu Mira dan Daihatsu Copen.

Kcar Global 24H Sepang Endurance sendiri merupakan balapan ketahanan endurance race selama 24 jam yang di ikuti berbagai macam jenis mobil berbodi kecil atau mini (2/3 dari ukuran mobil normal), dan mesinnya 660 cc atau yang dinamakan Kei Car. Balapan ini sendiri diadakan oleh KCar Global yang berinduk semang pada balapan 24h Kei Car di Jepang bernama K4GP. Kelasnya sendiri di Sepang dibagi menjadi 6 kelas, yaitu J1 (850cc turbo), J2 (660cc turbo), dan J3 (850 cc & 660cc N/A)khusus untuk peserta dari Jepang. Dan M1 (850cc Turbo), M2 (660cc Turbo), dan M3 (850 cc & 660cc N/A) khusus untuk peserta dari Malaysia. Dan total pesertanya sendiri mencapai 35 starter dari Malaysia, Jepang, Indonesia, Filiphina, dan Singapura. Dengan total pembalap satu mobil minimal 4 pembalap, maksimalnya? bebas alias unlimited. Yang artinya Anda mau mengajak orang satu kampung atau ratusan orang untuk ikut balapan ya monggo.

Sementara dari team Jepang, datang dengan berbagai macam Kcar mereka yang jarang bahkan tidak pernah saya jumpai di Indonesia. Seperti Suzuki Alto, Subaru Vivio, Honda Beat, Honda Today, Mazda Autozam AZ-1, Suzuki Cappucino,

Bahkan ada beberapa team dari Jepang memboyong Kit Cars mereka yang berwujud dan mirip dengan mobil aslinya. Seperti Sunoco Ferrari  512M ini, yang mana semuanya mirip, hanya ukuran dan cc mesin nya saja yang di buat small size.

Ada juga Austin Healey “frog eye” sprite, dan beberapa mobil seperti Alpine M63,  dan Ford GT40 (kit cars).

Dan tentu saja para pembalap Jepang yang datang beramai-ramai ke Malaysia untuk mengikuti balapan yang masih saudara dengan K4GP sebuah balapan endurance khusus untuk mobil Kei car (500 km dan 1000 km) di Jepang

Well sebelum race di mulai, panitia pun mengumpulkan seluruh 35 team dengan rata-rata 1 team atau mobil berjumlah 5 pembalap untuk early briefing. Dan uniknya briefing ini menggunakan 2 bahasa, yaitu Inggris dan tentu saja Jepang. Jadi ya saya sudah serasa sedang berada di Fuji Speedway meliput Super GT

Maklum saja, karena dari 35 team yang bertanding, hampir separonya pesertanya team atau pembalap Jepang. Termasuk juga para kakek-kakek jaman old yang masih kompresi tinggi membalap sebuah mobil balap. Apalagi umur paling muda dalam team ini berusia sekitar 70 tahunan.

 Walaupun akik-akik ini sudah berumur 70an  namun untuk urusan gaya atau style HP atau handsome power beliau masih besar, dan secara fisik dan mental kakek satu ini masih kuat melek an selama 24 jam di belakang kemudi.

Dan para akik-akik atau kakek-kakek dari Jepang ini terkumpul dalam team yang bernama CZR racing dengan weapon of choice mereka yang umurnya hampir sama dengan mereka , yaitu Alpine M63 tahun 1963

Selain memboyong mobil Kei Car mereka langsung dari Jepang, yang uniknya lagi mereka juga memboyong culture mereka ke Malaysia, yaitu costplay. Dimana setiap team atau mobil wajib menampilkan 1 tokoh costplay yang bebas dan suka-suka team tersebut. Mulai dari si Elvis Presley atau Pemain Baseball

Si manusia jamur atau Son Goku dari Dragon Ball

Memakai baju penguin yang sepertinya dari tokoh kartun anime bernama  Pororo The Little Penguin

The Mummy

Dan tak lupa para pembalap asal Jepang ini memboyong keluarga, anak, dan cucu mereka ke Sepang International Circuit Malaysia.  Dan Daihatsu Mira  berkelir biru dari team Garage Black Dog Japan ini bisa dibilang salah satu artis Kei Car asal jepang yang sering menjuarai dan menghiasi banyak majalah JDM seperti Option dan lain-lain.

Namun dari sekian banyak kegilaan dan keunikan yang di miliki oleh Kcar Global 24H Sepang Endruance 2017 ini,  yang saya saluti adalah hadirnya team yang di dalamnya terdapat 5 pembalap difabel

Dimana mereka mengikuti balapan 24 jam dengan sebuah Subaru Vivio  bermesin 658 cc supercharged yang sudah dimodif pada bagian gas dan remnya yang disesuaikan untuk para pembalapnya.

Well, jam sudah dekat dengan pukul 12:00, itu tandanya race akan segera dimulai. Dan sang old cayote  ini sudah siap untuk memulai balap 24 jamnya bersama team dan mobil kesayangannya Alpine M63

Aturan startnya pun cukup simple, yaitu para maskot atau cosplay tadi harus berdiri di seberang lintasan atau track menunggu aba-aba dari race director atau marshal sebelum mereka berlari menuju ke mobil balap team mereka untuk mencopot stiker yang menempel di kaca depan.

Ada yang couple sambil menahan panas akibat kostum yang mereka kenakan tidak eco friendly dengan cuaca Sepang.

Atau ada juga yang bercosplay ala Wan Abud atau juragan minyak dari timur tengah yang mungkin saja kebelet pipis.

Race 24 jam ini pun di mulai sekitar jam 12 siang (Sabtu), dimana rencananya nanti race akan finish pada jam ke-24 esok hari yang jatuh pada pukul 12 siang (Minggu)

Sementara saya? Perjuangan saya di lintasan sepanjang 5.543 km inipun baru di mulai. Walaupun masih ada sekitar 23 jam lagi hingga bendera finish dikibarkan, namun saya pun sudah mulai tersiksa dengan panas dan medan Sepang yang berbukit-bukit, dimana saya hanya bermodalkan jalan kaki bukan naik motor seperti di Sentul. Benar-benar menyiksa saya.

Sebanyak 35 mobil dari 35 team yang berasal dari berbgai negara seperti Jepang, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Indonesia mulai beradu nasib selama 24 jam kedepan. Terdapat sebanyak  yang dipertandingkan yaitu  3 kelas untuk team Malaysia, yaitu M1, M2, dan M3.

Dan 3 kelas lainnya, yaitu J1,J2, dan J3 yang merupakan kelas bagi team dari Jepang

Biasanya kita hanya melihat beberapa jenis KeiCar yang beredar di Indonesia hanya terbatas pada Daihatsu Ceria ataupun Suzuki Karimun yang terkenal irit. Namun di race kali ini, beberapa KeiCar seperti Daihatsu Mira yang dipersenjatai dengan mesin 64 ps Turbo. Mulai dari generasi ke-2 dan 3Hingga ke-4

Satu yang pasti beberapa pembalap Jepang benar-benar membuat si mobil unyil Daihatsu Mira L200 ini bertampang ala mobil balap sungguhan dengan penggunaan aero kit dan juga suspension yang membuat bodynya begitu rendah

Beberapa pembalap dari Jepang pun memakai Kei Car dari pabrikan Honda seperti Honda Today, yang berarti kakaknya bernama Honda Yesterday, dan sang adik bernama Honda Tomorrow.

Dan untuk para pembalap difabel, mereka pun menggunakan Subaru Vivio yang dimana tidak mempunyai pedal kaki. Jadi Bagaimana mereka mengegas, mengerem, dan mengoper gigi? Simple, mekanik dari team ini memodif pedal gas dan rem nya pada sebuah tongkat yang terletak di samping tuas gigi otomatis. Jadi mengeremnya menggunakan rem sepeda motor yang dipasangkan pada tuas tersebut. Anda menarik ke belakang tuas tersebut berarti maju atau throttle in. Love dat Difabel Racing stickers.

Ini adalah ke-4 kalinya saya ke track sepanjang 5.543 meter (5.5 km), dimana ditahun 2013 saya kesini mengawal H.Dadang dengan The Tiger Nissan GTR R35 di Sepang Drag Battle, Time To Attack Sepang International Circuit 2013, Motul Driving Experience 2016 dimana saya mempiloti mobil open wheel Formula 4 Renault, dan akhirnya K Car Global 24H Sepang Endurance 2017 ini. Namun, baru kali inilah saya berkeliling Sepang untuk meliput balap touring. Saya sendiri hanya bertahan sekitar 30 menit di spot atau area ini, karena fisik dan mental saya sedang tidak fit akibat belum tidur semalaman (hanya tidur 3 jam di pesawat) dan jet lag.

Ditambah lagi medan sirkuit yang naik turun dan jauh saya lakukan dengan jalan kaki. Ditambah lagi cuaca Sepang yang cerahnya sangat kebangetan alias panas. Kesimpulannya, bersyukurlah bisa memphoto di Sentul dengan naik motor.

Untuk beberapa team, tampaknya akan menjadi hari yang cukup panjang akibat kerusakan mesin pada mobil mereka. Saya melihat Daihatsu Kancil ini hanya bertahan sekitar 1 jam dari selapas start, sebelum akhirnya masuk kembali pit untuk hibernate menunggu mesin atau spare part yang diambil dari bengkelnya.

Beberapa team pun mulai menjalankan strategi nya dengan melakukan pergantian pembalap. Akhirnya saya bisa melihat adean pergantian balap layaknya balap 24H LeMans

Setelah pergantian balap tersebut, sang pembalap baru dari team Jepang yang bertarung di kelas J2 ini langsung memacu mobil Suzuki yang bernama minuman kopi ala Italiano, yaitu Suzuki Cappucinno yang sudah dilengkapi dengan aero kit dan GT Wing.

Sore hari mulai menjelang alias sebentar lagi malam, dan tak terasa balapan sudah berlangsung sekitar 6 -7 jam. Sepang pun mulai menunjukkan suasana night race nya, dengan lampu-lampu yang mulai menyala di area pit dan grand stand.

Sekitar jam 17.30, setelah berjuang melawan delay pesawat dari Surabaya jam 5 pagi, lalu menunggu pesawat ke Kuala Lumpur di Soekarno-Hatta selama kurang lebih 5 jam, akhirnya Rio R. Bramantio pun tiba di Sepang International Circuit. Ini adalah kunjungan pertama nya ke sirkuit Sepang dan akan menjadi debut perdananya balapan di sirkuit sepanjang 5.4 km ini. Sekitar Jam 18.30, pembalap Indonesia ini pun mulai keluar dari dalam pit dan berjalan menuju Daihatsu Copen nya yang telah terparkir di depan pit 20.

Dan akhirnya Rio pun secara resmi menyandang predikat pembalap internasional dengan melakukan debut perdannya balapan di luar negeri atau Sepang International Circuit, Malaysia pada ajang K Car Global 24H Sepang Endurance 2017. Bisa dibilang Rio adalah pembalap ke-2 Indonesia yang mengkitu balap ketahanan 24 jam setelah Sean Gelael yang berlaga diajang balap 24h LeMans.

Jam pun terus terus berjalan, tidak terasa waktu sudah menujukkan tengah malam, dimana race sudah berlangsung sekitar 12 jam atau setengahnya dari 24 jam. Dan keadaan Sepang waktu itu tampak terang, namun untuk tukang photo seperti saya rasanya  seperti café remang-remang. Karena intensitas cahaya nya kurang atau tidak seterang seperti night race di  Singapura ataupun Yas Marina yang seperti lapangan sepakbola di kala malam hari.

Terlebih lagi lampu penerangan jalannya yang terletak di tepi sirkuit berwarna kuning yang hanya terletak di satu sisi, membuat banyak area atau hampir seluruh area sirkuit ini menjadi dark side. Mungkin untuk pembalap serasa menyetir mobil di jalan umum atau luar kota, namun untuk tukang photo ini adalah mimpi buruk.

Belum lagi masalah intensitas cahaya yang kurang alias gelap, saya pun mulai stress sendiri sewaktu memphoto di malam hari dengan lampu penerangan yang minim sekali dan objek gambar yang bergerak kencang. Ternyata memphoto balapan 24 jam tidaklah semudah seperti yang saya lihat di beberapa account photographer luar negeri, terlebih lagi jika gear atau alat seperti lensa yang kurang cetar. Saya pada race kali itu membawa Canon 7D Mk2 dengan 70-200 USM F4 IS dan 550D dengan 18-55 IS.

Tapi yang namanya tukang photo keliling bonek, saya pun tidak menyalahkan gear yang saya punya. Meskipun minimalis, saya pun memaksa skill dan gear saya sampai pada limitnya. Dan saya tahu ini adalah pengalaman saya yang paling berharga bisa liputan balapan 24 jam, jadi suka atau tidak, saya harus terus bergerak dan menekan terus tombol shutter saya kearah mobil-mobil ini walaupun hasilnya tidak karu-karuan. Saya feeling sepertinya ada yang salah dengan auto focus atau something, karena panning saya selalu rusak.

Lepas tengah malam alias menjelang dini hari, beberapa pembalap pun mulai tampak mempersiapkan diri untuk shift dini hari mengganti rekannya yang akan masuk ke dalam pit

Seperti biasa S.O.P atau standard operating procedure seperti mengecek kekencangan mur atau baut ban, oli mesin, minyak rem, dan air radiator cadangan

Tapi yang herannya, tim yang di isi oleh akik akik ini hanya melakukan pengencangan baut ban saja sewaktu pergantian pembalap. Tak ada hal yang berbau buka kap mesin dan sejenisnya.

Begitu selesai melakukan pergantian pembalap, mobil langsung tancap gas melesat keluar dari area pit lane dengan kecepatan maksimal 60 km/jam

Pada dini hari ini saya pun menghabiskan malam dari atas balkon pit, menyaksikan beberapa Kei car melesat bersaing untuk mengumpulkan lap terbanyak

Yang uniknya lagi karena ini balapan mobil dibawah 1000 cc alias mentoknya Cuma 900cc, maka tak heran top speed yang dihasilkan mentok di straight line nya Sepang yaitu 122,81 km jam dengan average speednya 99,64 km/jam.

Dengan catatan itu untuk pemegang P1 yang diraih oleh team  Nuova Kasai dengan kit car Ford GT40 yang berhasil melahap sepang dengan best timenya 2:42.491. Sementara yang kecil-kecil atau dibelakang ada yang top speednya mentok di angka 98.81 km/jam

Jadi jika top speednya hanya 98.81 km/jam dengan average speednya juga Cuma 64.02 km/jam, jadi mobil itu membutuhkan waktu sekitar 3:21.944 detik untuk 1 lap nya. Jadi bisa dibayangkan betapa membosankannya sang pembalap membesut mobil tersebut mengelilingi sirkuit sepanjang 5,54 km ini.

Apalagi para pit crew yang berada di pit wall yang bertugas memberikan info ke pembalap, pasti bosannya minta ampun. Jika Anda membayangkan area pit wall  balapan Kcar ini mewah layaknya F1, well yang ada hanya terpal seadanya saja. Lebih mirip camping lebih tepatnya. Namun tenda  ini menjadi tempat dimana para pit crew melakukan eye contact dengan pembalapnya tentang catatan waktu atau memintanya untuk pit in.

Tapi untuk sebagian orang jam 2 dini hari adalah waktu yang tepat untuk….tidur. Itulah mengapa pembalap disebelahnya menunggu terlalu lama untuk naik ke dalam mobilnya. Ya karena sang temannya yang memegang ht atau intercom ke mobil di dalam lintasan sedang tertidur nyenyak.

Sekitar jam 3 pagi, balapan pun semakin brutal dan non stop. Team dari Garage Black Dog bersiap-siap untuk melakukan pergantian pembalapnya

Team ini sendiri pada saat jam 3 pagi menduduki posisi ke-6 umum dengan total lap sebanyak 243 lap dengan best timenya 14:58.10.441

Ada kelucuan yang terjadi pada saat Shubuh atau jam 3 pagi itu, yaitu ada  beberapa pembalap yang salah kamar alias kebablasan untuk berhenti pit di depan area pit mereka. Walhasil seharusnya pit tersebut hanya sekedar ganti pembalap saja, atau santai. Yang ada malah acara mendorong mobil hingga sekitar 4 pit kebelakang. Yaitu team CZR Racing yang seluruh pembalapnya berusia 70 tahunan. Mungkin karena faktor “U”

Dan sekali lagi saya pun ikut keluar dari dalam pit dan berjalan kaki menuju spot yang jaraknya sekitar 2 km dari pit pada dini hari, dan yang saya temukan hanyalah beberapa lampu yang cukup untuk menerangi beberapa titik saja.

Yang berwarna dan menyala hanyalah dari tail lights dari mobil peserta. Saya sempat desperate, apakah yang saya lakukan ini benar atau tidak begadang keliling Sepang dari siang hingga subuh hanya untuk sekedar memphoto. Ternyata tidak seindah yang seperti dibayangkan, memburu mobil semalam suntuk dengan pencahayaan yang minim.

Rasanya sudah sampai mau menyerah saja, mungkin inilah yang dinamakan balapan ketahanan, disamping para pembalapnya yang balapan, photographernya juga di uji. Namun rasa nyerah tersebut mulia hilang dikala saya menemukan beberapa spot yang bisa digunakan untuk photo walaupun dengan modal cahaya yang sangat minim sekali.

Karena ini jam 3 pagi dan tidak ada orang yang berjualan makan di Sepang pada waktu subuh ini, jadilah kami menitipkan teman Malaysia kami yang hendak membeli makan di luar Sepang, yaitu apa lagi kalo bukan fast food yang buka 24 jam. I’m lovin it

Sementara Ardella sedang asyik perpusing-pusing (jalan-jalan) di dalam sirkuit Sepang. Rio pun menikmati hidangan makan subuhnya sambil menonton tv yang berisi film  yang disambungkan dari hp. Karena saya sedikit mengantuk, focus pada mata dan kamera saya pun menjadi out of focus.

Saya pun sempat tertidur sekitar 1 jaman atau lebih tepatnya 45 menit, dan kemudian bangun kembali di pagi hari yang sudah cerah. Cukup lumayan untuk me recharge energi saya. Saya pun melanjutkan jalan saya menuju pit demi pit meilhat apa saja yang ada didalamnya. Dan saya ataupun Anda bakal mengira bahwa balapan yang mentoknya Cuma 122 km/jam ini tidak akan terjadi insiden, ternyata Anda salah. Ada beberapa mobil yang mengalami insiden kecelakaan pada saat malam atau subuh . Bahkan terguling.

Seperti pada mobil Suzuki Alto dari team Scuderia Yutaka yang pada jam 3 pagi tadi berada di posisi ke-2 umum dengan total lap sebanyak 260 lap, mendadak melorot menjadi posisi ke-3 pada jam 6 pagi akibat mengalami insiden kecelakan yaitu terguling

Kecelakaan yang menimpa Suzuki Alto ini mengakibatkan kaca depan dan samping pecah, hingga memaksa pembalap mengjentikan race nya dan ditowing masuk ke dalam pit oleh marshal. Untung saja berkat rollcage yang terpasang didalamnya nyawa sang pembalap bisa terselamatkan.

Walaupun Alto ini hanya bercc hanya 657 cc SOHC 12 valve turbo yang mampu memuntahkan tenaga sebesar 52 PS, cockpitnya sudah serasa seperti mobil balap turbo sekelas Evo lengkap dengan tacho meter dimana-mana.

Saya pun sempat ngobrol dengan pembalapnya dengan bahasa Inggris ala Jepang yang terdengar rada aneh, saya sempat menanyakan kepada pembalapnya mengenai spek mobilnya. Dia langsung menunjuk ke arah dalam hoodnya yang sudah dicoret coret dengan stipo atau tipe x mengenai spec nya lengkap dari mesin, part yang digunakan hingga rasio gear box nya. Katanya biar ga ribet meladeni pertanyaan orang mengenai spec mobilnya.

Mungkin tak hanya mobil saja yang keringatan sampai dikuras habis digeber nonstop hampir 24 jam.Termasuk juga race suit dan gear yang lainnya yang awalnya nyaman berubah menjadi spa atau sauna hingga membuat race suit yang mereka kenakan gobyos atau basah akibat keringat yang segede kingkong. Jadi tak ayal di semua pit berubah menjadi jemuran.

Jika beberapa pembalap sudah keliatan segar dan bersolek, karena shift mereka sudah selesai

Tidak bagi si kakek berumur 71 tahun ini, 1  jam menjelang garis finish alias 23 jam race, dia malah makin menggila alias ngeboost. Bahkan aki-aki ini terlihat seger bugar, tak tampak wajah loyo sehabis ngronda semalaman di Sepang.

Sang akik-akik yang tergabung di dalam team CZR racing dengan weapon of choice mereka yang umurnya beti atau beda tipis dengan mereka, yaitu Alpine M63 kembali masuk dan menggantikan rekan satu teamnya

Saya sendiri jatuh cinta dengan tunggangan si ini, yaitu sebuah Alpine  M63. Yang mobil dari pabrikan Perancis, Alpine. Mobil yang diproduksi pada tahun 1963 ini, dijamannya merupakan race car yang digunakan untuk balap khas Perancis, yaitu 24h LeMans.

Sang kakek bersama Alpine M63 yang dipersenjatai dengan mesin 996 cc inline 4 dengan  two Weber carburators  yang mampu memuntahkan tenaga sebesar 93 PS ini pun langusung flat out menghabiskan sisa waktu 1 jam sebelum finish. Sang kakek pun berhasil mencetak best time 3:03.872, dimana best time timnya bersama Alpine M63 adalah 2:53.524. Namun sang kakek pun berhasil membawa timnya ke garis finish setelah menempuh race selama 24 jam dengan total lap sebanyak 347 lap

Bermodal best timenya yang dicetak pada saat malam hari, yaitu 3:24. Rio pun tampil percaya diri dan berhasil finish di urutan ke-32 dan ke-2 di kelas M2 atau Malaysia 660 Turbo (standart engine). Dan menutup race bagi Mozid Racing di K Car Glabal 24H Sepang Endurance 2017 dengan total lap time sebanyak 251 lap yang ditempuh selama 24 jam. Bahkan Rio kembali mempertajam best time nya dari 3.24 menjadi 3.17, di sisa-sisa akhir race dimana tenaga mobil sudah loyo. Rio pun berhasil menjadi yang tercepat ke-2 di teamnya, setelah best time 3.15 yang dicetak oleh Mahali.

1 jam menjelang bendera finish dikibarkan bisa dibilang 1 jam terakhir bagi para peserta untuk memperbanyak jumlah lap yang mereka punya.

Disamping itu satu jam terakhir adalah masa dimana titik darah penghabisan ketahanan mesin mobil mereka yang digeber 24 jam nonstop.

Menjelang garis finish atau satu jam menjelang  bendera finish dikibarkan, beberapa pembalap pun terlihat dog fight dengan pembalap lainnya. Seperti dog fight duo Daihatsu Mira L700

Dan juga  sang kakak atau Daihatsu Mira generasi ke-3 (Daihatsu Mira L200) yang sudah di modif dengan turbo. Well, Kei Car kelahiran tahun 1990 ini memang terlihat macho dan gahar, jauh dari kesan culun karena pengadoptasian  mesin turbo, body kit with extra wide body, dan tentu saja rims 13 inch namun super wide.

Rasanya saya jadi pengen punya satu kei car dengan spec racing ini.

Dan juga tampak tim Siroma with Mansyuuya dengan Austin-Healey Sprite dengan julukan si mata kodok atau si frogeye atau bugeye yang dipersenjatai dengan mesin 948 cc 4cylinder dengan power output sebesar 43 hp. Si frogeye open wheels ini  berhasil finish di posisi ke-22 (overall), dan bertengger di posisi ke-6 di kelas J1 dengan total lap sebanyak 343 lap dan best timenya 2:45.363. Top Speednya pun mencapai 120.67 km/h

Dog fight juga terjadi antara Team Garage Black Dog dengan Daihatsu Mira L200 yang bertarung di kelas J2, melawan iidacarsPEKESKE dengan kit car Sunoco Ferrari 512M yang bertarung di kelas J1. Dimana akhirnya pertarungan ini dimenangkan oleh Team Garage Black Dog yang finish di posisi ke-6 dengan total lap 398, dimana team ini juga berhasil naik keatas podium ke-2 di kelas J2. Sementara iidacarsPEKESKE harus puas finish di posisi ke-10 dengan total lap 383, di kelas J1 team ini bercokol di posisi ke-4.

Team Free ans News dengan jenis kit car yang saya tidak tahu namanya, berhasil finish di posisi ke-4 overall. Sementara di kelas J1 team ini berhasil merebut podium ke-3 dengan total lap sebanyak 405 lap dengan best timenya 2:45.404 dan top speednya mencapai  120.64 km/h

Uniknya lagi karena top speed K-car ini hanya mampu mentok di 122,81 km/h (rata-rata 110 km/jam) banyak pembalap yang menyapa saya dengan lambaian tangan atau “peace” kepada saya ketika keluar dari tikungan dan flat out di straight. Seperti pembalap dari team Zam Auto Garage Speed yang menggunakan Daihatsu Mira L200 melambaikan tangannya ke saya alias sadar kamera. Zam Auto Garage pun finish di posisi ke-27 (overall), dan berada di posisi ke-5 di kelas M1 dengan total lap sebanyak 308 lap dengan fastest lap timenya 2:53.278

Sementara pembalap dari Chiba Peanut Racing dengan Honda Beat memberikan tanda “peace” ke saya ketika melibas tikungan R1. Chiba Peanut Racing berhasil finish di posisi ke-16 (overall), dan posisi  ke-4 di kelas J2 dengan total lap sebanyak 377 lap dan best timenya 03:08.508.

Beberapa menit sebelum finish, hampir seluruh pembalap pun melakukan konvoi atau parade dengan cara berjejer pada saat melewati straight Sepang. Sepertinya inilah cara atau tradisi mereka untuk menikmati menit-menit terakhir ajang balap ketahanan selama 24 jam dengan berkonvoi bersama. Masuk akal juga mereka melakukan ini alias tidak menggila di menit-menit terakhir, karena perbedaan total lap satu peserta dengan peserta cukup besar gap nya (5-15 lap), apalagi satu lap saja mereka butuh waktu sekitar 3 menitan, dengan top speednya rata-rata Cuma 100-110 km/jam.

Bahkan beberapa peserta yang tadi malam sempat terguling dan rusak parah, hingga memutuskan untuk tidak melanjutkan race setelah insiden. Bangkit dari kubur pada sekitar menit-menit terakhir menjelang bendera finish dikibarkan dengan kondisi body mobil yang penyok sana-sini, dan tentu saja kaca depan dan belakang yang pecah. Namun sepertinya inilah strategi yang diterapkan oleh mereka untuk save the best for last, alias menggunakan sisa darah penghabisan untuk bisa menyelesaikan balapan. Seperti WRF D Garage dengan  mobil Perodua Viva yang berhasil menyelesaikan racenya dengan total lap sebanyak 278 lap dan best timenya 3:21.944. Dimana mobil 3 silinder 659cc bertenaga hanya 50 hp ini top speednya hanya mentok di  angka 98.81 km/h, yang merupakan top speed paling rendah di event itu. WRF D Garage pun harus puas finish di posisi ke-31 (overall), sementara di kelas M3, mereka bertengger diposisi ke-7.

Termasuk team Scuderia Yutaka yang kedaan mobilnya sudah ringsek dengan seluruh kacanya pecah akibat terguling semalam. Setelah ngendon di dalam pit dari tengah malam, akhirnya di menit-menit terakhir Suzuki Alto bernomor lambung #39 ini bangkit kembali berhasil finish di posisi ke-18 (overall), dan ke-5 di kelas J3. Total lap nya sendiri cukup banyak yaitu 365 lap dengan best timenya 113.43 km/h

Dan akhirnya pemimpin balapan Kcar Global 24H Endurance  adalah  Team Nuovo Kasai dengan Ford GT40 kit car yang berhasil memimpin terdepan dalam perolehan lap terbanyak dari hari Sabtu (18/11) hingga Minggu (19/11). Dimana mereka berhasil memimpin mengumpulkan sebanyak 432 lap. Dengan best time nya 2:42.491 dan top speed 122,81 km/h yang merupakan pemegang rekor tercepat dalam best time dan top speed  dari 35 mobil yang berlaga di KCar Global 24H Endurance.

Dimana Team Nuovo Kasai berhasil memimpin sebanyak 9 lap dari pesaing terdekat mereka, yaitu Team Iyokan yang sama-sama menggunakan Ford GT40 kit car dimana FORD GT berkelir warna merah itu finish di posisi ke-2 dengan total lap sebanyak 423 lap

Well, dan tampaknya tugas saya meliput balapan ketahanan 24 jam usai sudah. Dan saya tidak percaya bahwa saya bisa mendapatkan kesempatan untuk meliput balapan yang masih bersaudara dengan 24h LeMans, dan bisa menyelesaikannya hingga jam 12 ke esokan harinya dengan sehat walafiat.

Meskipun jujur saja saya sempat stress karena jet lag, kondisi track yang jauh dan panas, jalan kaki, lensa saya kurang panjang, dan moto dengan kondisi gelap gulita. Namun semua kekurangan saya tesebut menjadi pengalaman dan pembelajaraan yang sangat berharga bagi jam terbang saya sebagai seorang tukang photo keliling. Dan yang pasti pada saat menit-menit terakhir ini saya pun mulai batuk-batuk yang disertai mual-mual tanda saya harus beristirahat.

Dan yang membuat saya salut dan angkat jempol adalah ke-5 pembalap disabilitas yang mempiloti mobil Subaru Vivio ini berhasil menyelesaikan race selama 24 jam nya dengan finish di posisi ke-29 (overall), sementara di kelas J2 team ini berada di urutan ke-7 dengan total lap sebanyak 289 lap. Dan best timenya dari mobil yang dimodif khusus tanpa pedal gas ini adalah 3:10.290 dengan top speednya mencapai 104,87 km/h.Sementara sang kakek  ini pun berhasil membawa timnya ke garis finish setelah menempuh race selama 24 jam dengan total lap sebanyak 347 lap. Alpine M63 dari team CZR Racing ini finish diposisi ke-21 (overall). Sementara di kelas J2, berhasil bertengger diposisi ke-5 dengan best timenya 2:53.524 dan top speed 115 km/h. Dia pun merayakan kemenangannya bersama cucu-cucunya yang di boyong dari Jepang

K Car Global 24 H Sepang Endurance 2017 berhasil diselesaikan oleh ke-6 pembalap dari team Mozid Racing telah menyelesaikan balapan selama 24 jam ini dengan menempuh sebanyak 269 lap. Kerjasama yang sukses antara pembalap Malaysia dan Indonesia sehingga mengantarkan team mereka ke podium ke-2 kelas M2. Dari kiri ke kanan, Amirul Axmal, Aizat Ramlan, Ardella Aryana, Yazid , Rio R. Bramantio (Indonesia), dan Mahali.

Dengan uang pendaftaran sebesar RM 20.000  atau sekitar 70  juta sekian rupiah (paket hemat) yang dibagi menjadi sekitar 6 pembalap (masing-masing pembalap urunan sekitar RM 3.300 (11 jutaan sekian rupiah/orang), race selama 24 jam, dan masing-masing pembalap mengumpulkan total lap sebanyak 50-90 lap. Hadiahnya hanya berupa 1 buah piala yang terbuat dari mika. Worth it? Saya rasa worth it jika Anda seorang car crazy dan speed freak sejati, dimana Jika Anda sudah pernah balapan apa saja, tapi belum pernah menguji fisik, stamina, dan mental Anda selama 24 jam didalam lintasan. Maka Anda mungkin perlu ikut balap 24 jam, dimana rasa need for speed Anda mengalahkan rasa kantuk dan sakit pada badan Anda. Di Indonesia sendiri baru Sean Gelael dan Rio R. Bramantio yang pernah mengikuti balap ketahanan 24 jam.

Dan bisa jadi saya menjadi   photographer atau jurnalis Indonesia yang pertama meliput balapan semalam suntuk atau 24 jam. Who know? Tapi yang jelas saya masih mengincar life goal saya berupa liputan balapan 24 jam yang asli yaitu 24 Hours of LeMans. Semoga saja terwujud. Aamiin.

RIO R. BRAMANTIO FEAT. MOZID RACING IN KCAR GLOBAL 24H SEPANG ENDURANCE

 

Bayu Sulistyo

IG : @bayusulistyoo

*Like us on Perfourm Facebook Fanpage

*Follow us on Instagram: @perfourm

*Hashtags your photo with #PERFOURMMACHINEHEAD, and you can be on Perfourm.com *Hastags your car project with #BUILDTORACE and #BUILDTOPERFOURM, and you can be on Perfourm.com

Comments

comments!