EVANTOTS AND THE GADUN MAX

719

Jika ada pro drifter Indonesia yang race dengan modal dari om om gadunnya a.k.a Sugar Daddies. Well,  maka drifter itu adalah Evan Pratama atau Evantots. Kali ini para Sugar Daddies nya yang tergabung dalam G-MAX atau Gadun Max ikut mensupport Evan untuk bertarung di Kejurnas drift rd.2  di Lanud Pondok Cabe pada tanggal 20-21 Juli 2018 yang lalu. Walaupun langkah Evan dengan Nissan Cefiro A31 SR20DET nya terhenti di best 8, namun dia berada di urutan ke-5 pada babak kualifikasi dengan perolehan point 66,50

Ah.. Friday morning. Pro drifter kita tampaknya sedang tertidur lelap di dalam mobilnya karena semalaman belum tidur atau begadang mengurusi segala keperluannya untuk event ini, memastikannya tidak ada yang tertinggal atau terlupa. kasarannya ” all by my self”

Termasuk juga Nissan Cefiro A31 bermesin SR20DET yang dipinjamnya dari Amandio. Cefiro yang pernah mengantarkan Amandio ke title Juara Nasional Drift 2017 ini dikelir dengan warna ungu dengan dipermanis dengan livery atau cutting sticker berbagai brand di seluruh body mobil 4 door sedan ini. Termasuk juga sticker JSTC atau Japan Super Touring Championship, dimana Ferry Yanto Hongkiriwang yang merupakan promoter JSTC dan Vice President Gazpoll Racing Team  ikut menjadi Sugar Daddies nya Evan, atau ikut mensupport dalam event ini

Dimana Ferry tergabung dalam sticker yang sekilas saya kira D-Max Japan yang merupakan brand racing dari Jepang, yang ternyata G-Max yang berarti Gadun Max.

Meet G-Max team alias Gadun Max a.k.a om om gadun nya Evan yang ikut memberikan jatah uang janan balapan  kepada juara umum Achilles Motorsport Festival 2015 ini. Ini adalah sticker paling kreatif, brilliant, dan informatif yang pernah saya temui di Indonesia. Dimana sticker wajah bos-bos ini mengalahkan logo brand yang terpampang di mobil, alias straight outta boss. Saya akan memperkenalkan kepada Anda line up para Sugar Daddies atau Om-om gadunnya Evan. Dari kiri ke kanan, Nanang Basnawi (pembalap ETCC) , Chandra Kenzo HTJRT, Adrie Yahya Achilles Radial, Apip Ginanjar (pembalap JSTC), dan Ferry Yanto Hongkiriwang JSTC (Gazpoll Racing Team)

Jika masalah uang jajan balap dan  Public Relations beserta Media exposure yang membuat “Kalo om senang, Evan pasti senang” sudah aman terkendali. Maka ada sebuah PR atau pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Evan ketika dia bertarung di dalam track sana. Yaitu mengeluarkan membuat si mesin 2.0 Lt SR20DET yang under power ini menjadi liar dan buas di track seperti yang dilakukan oleh Amandio pada tahun 2017 yang lalu untuk merebut titel juara nasional dari drifter lainnya yang menggunakan mesin 3.0 Lt 2JZ. Perbedaan antara SR20 dengan 2JZ, SR20 torsinya dapat, tapi di power delivery nya lebih gila di 2JZ, apalagi kalo 2JZ di gas bisa mundur. Sementara kalo SR20 kita harus agressif nyetirnya.

“Bismillahirrahmanirrahim” adalah senjata pamungkas Evan untuk memperbesar usahanya  dengan cc mesin atau power mesin yang kecil.

“Awalnya pas mau balapan, tapi mobil gue belum siap, akhirnya Dio nawarin pake mobil itu (Cefirto). Dan kan bukan pake mobil Achilles, otomatis ga ada benkingan dunk, no factory beking , no nothing, no money. So what do i do, so you call a few friends. Dan tibs-tiba a few friends tersebut are gadun, And they’re willing to help. Dan mereka tidak minta brand untuk dipasang jadi bikin aja di mobil. Dan karena dulu Dio dulu kaki-kakinya disponsori sama D-Max, ya bikin aja D-Max, tapi kalo diplesetin jadi G-Max juga lucu (Gadun-Max). Dimana mereka bukan hanya support saya secara finansial saja, tapi juga secara emosional. Terutama support berupa kepercayaan kepada saya, yang mana itu sudah lain cerita” terang Evan perihal sticker G-Max dan sticker wajah om-om gadunnya.

And the show must go on. Tapi di luar semua ketegangan dan ngeri-ngeri sedapnya initiate dengan second gear, selalu ada waktu untuk berphoto bersama para penggemar atau fans clubnya Evantots

Bermain salam atau tos tangan dengan sang owner Cefiro yang dipinjam oleh Evan, yaitu Amandio.

Atau bergaya ala sily face alias pelemasan sebelum masuk ke dalam cockpit Cefiro yang baru pertama kali dia pakai ini. Yes guys, sebelum event ini Evan memang tidak pernah menggunakan  atau latihan Cefiro milik Amandio ini. Jadi babak free practice ini menjadi babak latihan dan juga malam pertamanya bersama si Cefiro SR20DET berkelir ungu itu.

Sebelum dia mulai flat out  dan initiate ke kanan dengan second gear

Evan pun memulai Kejurnas seri 2 nya di Lanud Pondok Cabe dengan melakukan sesi latihan resmi dengan Nissan Cefiro A31 bermesin SR20DET. Tampak Evan masih berusaha untuk berdaptasi dengan four banger under power yang mengalami masalah turbo lag dan juga piping yang bocor.

Oleh karena itu beberapa kali dia terlihat straighten atau under, karena berjuang melawan turbo lag, piping yang bocor, exhaust bocor, mesin bocor, header pecah,  dan wasgate copot. Jadi mobilnya ga ada power sama sekali. Menurut info Cefiro ini sempat dibeli oleh Pro Drifter Indonesia, M. Farhan, namun belum sempat mengaspal di buyback lagi oleh Amandio.

Ternyata begitu saya sampai di paddock, gearbox cefiro ini sudah berada di bawah alias gearbox OEM SR20DET nya rusak akibat run sewaktu sesi latihan tadi. “The Car its ok, It’s fast. Tapi berhubung its old engine. Dan karena mobilnya tidak dirawat sebelumnya, jadi ada beberapa masalah didalamnya” terang Evan.

Namun sekitar 1-2 jam kemudian sebuah gearbox  sudah landing di lanud pondok cabe untuk di instal ke dalam mesin SR20DET sebelum babak kualifikasi atau QTT di mulai.

Crew dari 55 Racing pun melaksanakan tugasnya dengan baik dengan meng install gearbox tepat waktu sebelum babak kualifikasi dimulai. Dan Evan siap membakar ban Achilles Radial 123S bersama Cefiro nya di Kejurnas seri 2 2018.

Evan pun mulai melakukan run babak kualifikasinya sebanyak 3 run. Dimana run yang 1 dan ke-2  merupakan run pemanasan dan tidak di nilai oleh 3 dewan juri. Evan pun memanfaatkan 2 run gratis dari dewan juri untuk latihan nya.

Namun begitu masuk di run ke-3, pembalap touring ETCC ini langsung flat out menyelesaikan track yang berbentuk angka 8 itu dengan full throttle. Mesin dan gearboxnya yang dalam kondisi maksimal pun berhasil mengantarkan Evan meraih point sebanyak 66,50 dari 3 dewan juri dari Malaysia, yaitu Tengku Djan Ley, Wanbro, dan Tan Tat Wei. Pro Drifter Indonesia ini pun bertengger di posisi ke-5  dari 31 drifter di babak kualifikasi.

Setelah berhasil membukukan point 66,50 dan membawanya ke posisi ke-5 di babak QTT. Evan pun akan menghadapi babak tandem drift di best 32 yang akan diadakan pada ke esokan harinya (Sabtu, 21/7). Namun sebelum bertarung di best 32 dengan rivalnya yaitu Aria Ramadhan atau Bowo Triweko, Evan pun melemaskannya dulu dengan latihan tandem drift dengan Bimo

Saya pun sangat menikmati tarian dansa dua orang drifter ini yang terlihat kompak dengan speed, angle , dan line serta asap ban yang cukup banyak.

Dari Bimo, Evan pun melanjutkan sparing partnernya dengan  Ikkhsan Utama. Namun Evan sepertinya terlalu bersemangat hingga mencium 200 SX Ikhsan hingga membuat headlight Cefironya pecah, dan front bumpernya Ikhsan pecah.

Tapi dasar 2 pro drifter Indonesia, no hard feeling  akan insiden di sore hari tadi. Ke-2 drifter ini tetap bertango ria  hingga malam hari di lantai dansa Lanud Pondok Cabe.

Dan dia pun menikmati malam itu dengan berdansa di dance floor seperti layaknya seorang party boy.RACE DAY

Dari QTT atau babak kualifikasi kita beralih ke race day, dimana  sebelum masuk ke tandem drift best 32 diadakan opening ceremony dengan parade sebanyak 31 drifter yang mengikuti kejurnas seri ke-2 ini. Satu yang saya suka dari Evan, adalah kreatifitas nya dalam bermain livery pada mobil balapnya. Orang ini mengganti livery mobilnya, seperti cewek mengganti under wearnya setiap hari. Dengan kata lain, setiap balapan pasti ganti livery. Gadun…

Dan waktunya untuk menyenangkan para penonton, penggemar, dan tentu saja sponsor dengan menyapa dan membagi-bagikan merchandise sponsor Achilles Radial kepada para penonton Kejurnas yang memadati area tribun .

Dan penonton pun sangat menyukainya acara bagi-bagi merchandise ini.

Tapi begitu tiba dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Evan pun mencopot topinya, meletakkan didadanya, dan menyanyikannya dengan bangga dan dada ditegakkan.

Dari ke-5 Sugar Daddies atau Om-Om Gadun nya Evan, 3 diantara datang ke track menyambangi Evan. Satu diantaranya adalah Nanang Basnawi yang merupakan rekan satu teamnya di balap touring ETCC asal kota Suroboyo. Selain Nanang ada juga Chandra Kenzo yang merupakan drifter sekaligus team owner HTJRT, dan juga Adrie dari Achilles Radial.

Evan memang Not Play Play alias gak main-main untuk urusan drifing ataupun balap touring. Mulai dari livery mobil hingga mencari sponsorship kesegala penjuru arah untuk tetap bisa bersideways ria atau fullfill his adrenaline junkie.

Masuk ke best 32, Evan Pratama melenggang kangkung seorang diri untuk maju ke best 16. Dimana di best 16 dia bertemu dengan drifter dari Bank BJB HGMP Racing Team, Aria Ramadhan dengan BMW E46 ex touring car.

Pertarungan sesama pembalap touring ini akhirnya berhasil dimenangkan oleh Evan yang mengkandaskan langkah Aria ke best 8

Break dari best 16 ke best 8  yang cukup lama karena adanya konser music band nasional di main stage membuat best 8 diadakan pada malam hari sesuai sholat Magrib.

Jadi untuk mengusir ngantuk ketika berada  di dalam cockpit sewaktu line up,  tak ada salah nya untuk light up the night dengan sebatang rokok untuk mengusir rasa kantuk.

Waktunya best 8, waktunya untuk pertarungan melawan drifter rookie bernama  Valentino dari ABM Drift Team

Dimana dengan kondisi mobil under power dan beberapa masalah di dalamnya, dia  pun membutuhkan keajaiban dari yang diatas. Apalagi rival yang dia hadapai di best 8 ini, sudah berhasil merebut podium 1 di kelas rookie.

Pertarungan antara 2 drifter beda kelas di best 8  ini pun di mulai dengan Valentino pada posisi lead dan Evan do belakang atau chase. Evan pun memburu 200SX yang di piloti oleh Valentino dengan cukup agresif. Di beberapa sektor Evan cukup tertinggal jauh dari Valentino yang mempunyai power lebih daripada Evan. Namun di beberapa titik Evan berhasil mengejar Valentino.

Begitu pula di second run dimana Valentino yang berada di posisi chase, memburu Evan yang berada di depan dengan sangat ketat  mulai dari initiate.

Hingga hampir semua sektor. Evan yang mempiloti Nissan Cefiro bermesin SR20DET pun tak kuasa untuk lari dari kejaran Nissan S13 200SX bermesin RB25DET yang dipiloti oleh Valentino. Akhirnya langkah Evan untuk maju ke babak semi final atau best 4 pun kandas setelah 3 juri dari Malaysia mengumumkan bahwa Valentino berhak maju ke next round atau best 4.

“Jujur aja pas lawan Valen saya ketinggalan, mobil saya ga bisa ngejar sedemikian rupa. Valen has a better car, a better chassis, more adapted to the car. Unlike me. Soalnya Valen sudah make mobil itu 2 kali, sudah sering latihan sebulan 2 kali dengan mobil tersebut. Saya baru nyoba mobil ini pas hari H, dimana pas hari H juga, gearbox  saya rontok.

” So i think dengan qtt ke-5 dan finish ke-5 saya sudah cukup bangga dengan mobil ini. Apalagi mobil ini emang Amandio banget atau setelan khusus untuk Amandio yang disetel untuk high speed drift dan high speed initiate, ya saya belum biasa untuk pakai mobil yang lebih ndlosor yang agak laju atau terlalu grip buat saya. Tapi overall mobilnya oke, kesalahan saya aja yang belum adaptasi dengan mobil ini” terang Evan setelah race.

Kalo om senang, kalian pasti senang

STRAIGHT OUTTA BSD GP 2017 : EVANTOTS VS THE BOSSES !!

 

Bayu Sulistyo

IG : @bayusulistyoo

 

*Like us on Perfourm Facebook Fanpage

*Follow us on Instagram: @perfourm

*Hashtags your photo with #PERFOURMMACHINEHEAD, and you can be on Perfourm.com

*Hastags your car project with #BUILDTORACE and #BUILDTOPERFOURM, and you can be on Perfourm.com

Comments

comments!