JSTC : SENTUL NIGHT FIGHTERS – KANJO STYLE!

Japan Super Touring Car Championship Night Race berhasil diselenggarakan dengan sukses, dimana Luckas Dwinanda dari Gazpoll Racing Team berhasil menjadi yang tercepat dan mempertahankan P1 nya dari serangan Amandio ABM Motorsport.  JSTC ISSOM Night Race seri ke-4 yang digelar pada Sabtu (18/8) yang lalu di Sentul International Circuit, Bogor. Ini pun lebih terasa seperti Kanjozoku made in Indonesia, karena berlangsung di malam hari dengan  didominasi oleh para Honda Boys yang menggunakan civic.

Aura Night Race pun mulai terasa di beberapa pit peserta JSTC. Seperti di pit AP Speed dimana mereka melakukan penyesuaian yang sesuai regulasi, yaitu lampunya harus didalam ujung front bempe (todak boleh menonjol). Oleh karena itu crew AP Speed pun mulai melakukan operasi dengan memotong front bumper OEM asli Estilo atau SR3 supaya lampu LED nya bisa masuk ke dalam front bumpernya.

There she go. Selamat tinggal OEM front bumper SR3

Bukan hanya bagian depan front bumpernya aja, tapi juga bagian grillnya ikutan dipotong oleh para crew AP Speed. Agar si Halogen bisa bersembunyi di dalam grill nya.

Sementara di toko sebelah atau pit sebelah, tampak 2 tuner handal Indonesia, yaitu Wie Wie Rianto dari R Speed Indonesia dan Ovi Sardjan KS Nusa. Dimana duet maut tuner yang satu terkenal sakti dalam membangun segala jenis mobil balap (Wie Wie), dan yang satu lagi sakti dalam hal tuning mentuning segala macam ecu stand alone. Dimana mereka menghasilkan satu karya seni berupa Honda Civic Type R FD2R milik Ricky yang meskipun bobotnya paling gemuk dan berat diantara kawanan mobil peserta JSTC lainnya. Namun si Type R ini mampu membuat para pembalap yang menggunakan hatchback atau sedan kecil ngeri ngeri sedap ketika bertarung dengan si Type R di barisan depan atau tengah.

Sama seperti Ricky, Imin Barata pun hanya menggunakan 2 lampu tambahan pada bagian depan front bumpernya untuk menerangi jalannya ketika dia beraksi di dalam lintasan pada malam hari.

Light out the night. Seperti ini lah contoh penerangan di EG6 atau Estilo salah satu peserta JSTC. Dimana ke-5 lampu tersebut akan saling meng back up menerangi pandangan sang pilot, alias meminimkan blank spot atau dark side.

Dan sebagai salah satu safety equipment yang wajib pada night race kali itu adalah rompi  yang glow in the dark. Fungsi dari rompi yang mirip dengan 4 point harness ini adalah ketika si pembalap mengalami insiden di tengah track yang gelap gulita, maka dengan bantuan rompi  tersebut marshal di tepi lintasan akan lebih cepat dan mudah menemukan lokasinya serta mengevakuasi ketempat yang aman. Disamping itu juga berguna untuk menghindarkan pembalap lainnya menabrak si pembalap tersebut.

JSTC Night Race kali itu di ikuti hanya  sebanyak 15 pembalap saja. Meskipun biasanya race ini diikuti oleh sebanyak hampir 20an pembalap, namun JSTC menjadi salah satu dari 6 race yang masuk dalam agenda ISSOM Night Race rd.4 2018

“JSTC bisa masuk 1 dari 6 race yang dipertandingan  pada ISSOM Night Race karena kualitas, dan juga Gazpoll Racing Team merupakan sponsor utama dari Night Race kemaren. Dimana bisa dibilang saya sebagai pencetus awal Night Race, tepatnya pas meeting dengan ibu Lola di PP IMI. Dan saya cukup senaang bisa menyelenggarakan Night Race ini bagi para pembalap JSTC dan lainnya. Seperti Om Chandra Alim yang dulunya waktu kecil dulu saya cuma bisa melihat Beliau dari koran atau majalah saja, dan kini saya bisa menjadi promoter balap yang di ikuti oleh Beliau” terang Ferry Yanto Hongkiriwang promor JSTC yang merupakan Vice Chairman Gazpoll Racing Team.

Ferry pun lantas memberikan tanda jempol atau menyemangati kepada setiap pembalap JSTC yang lewat dihadapannya.

Di Night race ini juga kita akan melihat  lagi duel el classico atau battle of titans antara Amandio dari ABM Motorsport dengan S14 nya melawan Luckas Dwinanda dari Gazpoll Racing Team dengan Honda Super Brionya. Apakah si Drift King alias tofu boy bisa menang dari Luckas pada malam hari ini.

Comments

comments!