ISSOM 2018 RD.6 : THE LAST BATTLE IN SENTUL

Dari kesibukan dan hingar bingar serta spanengnya para mekanik yang  dikejar deadline untuk memperbaiki mesin supaya bisa race. Kita beralih yang adem-adem, seperti Porsche Lyfe. Pada pagi hari tu ada 2 Porsche putih yang membuat saya horny dan kesengsem, yaitu Porsce 911 Carrera S milik Nanang dan Porsche 911  Turbo S milik Ferry Yanto Howngkiriwang sang promotor JSTC.

Bad boys for life. Sayapun mengajak Nanang yang memakai Perfourm Driver’s Collection Forever Motorsport untuk mengadakan sedikit photo sesion ala cover boy majalah pria dewasa dengan 911 nya.

Forever Motorsport t-shirt tersebut terlihat sangat berjodoh dengan karakter Nanang yang mempunyai karakter Om-om gadun dengan taste bad boys sebagai auranya. Cocok dengan karakter brand Perfourm.

Sementara di belakang 911 Carrera S nya Nanang ada 911 Turbo S yang merupakan versi  high performance dan turbonya dari milik Nanang.  Dimana 911 milik  Ferry Ini di lengkapai dengan  mesin boxer 3.8 Lt flat six twin turbocharged yang mampu memuntahkan tenaga sebesar 552 hp/750 N.m dengan akselerasi 0-100 km/jam dalam tempo waktu hanya 2.6 detik  saja.

Bukan hanya bagian engine nya saja yang bikin saya dan Ferry kesengsem atau bahkan horny pada mobil ini. Namun pada bagian kaki-kakinya Porsche ceramic Composite Brake (PCCB) dengan cross-drilled ceramic brale disc berdiameter 410mm(front) dan 390mm (rear) yang dilengkapi  dengan six-piston plus four-piston yang bertugas mengehntikan perputaran dari central locking device 20-inch 911 turbo S wheel yang dilengkapi dengan pelindung anti maling

Uthan M. Arief Sadikin selaku Direktur Pemasaran PT. Multistrada Arah Sarana selaku produsen Achilles Radial pada seri ke-6 itu memperkenalkan ban balap basah pertama Achilles Radial.  Dimana ban basah kompetisi ini merupakan versi kembangannya (basah) ban slick GS328. Namun sayangnya , pada race kali itu cerah ceria, sehingga Uthan pun gagal mencicipi ban baru buatan perusahaannya ini

Siapa bilang keterbatasan fisik bisa menjadi penghalang bagi seseorang untuk flat out di ISSOM, dan naik ke atas podium. Buktinya M. Fadli yang merupakan seorang difabel dan atlet nasional balap sepeda peraih medali emas  Asian Para Games 2018  ini bersama Gazpoll Racing Team memulai  debut perdananya di  Indonesian Sentul Series Of Motorsport atau ISSOM seri ke-6 dengan BMM E36

“Saya bisa balap mobil di Sentul, awalnya ditawari sama Om Ferry dari Gazpoll Racing Team yang kebetulan juga panitia INAPGOG Asian Para Games 2018 yang lalu. Ga nyangka banget ditawari balap mobil, apalagi saya tidak punya perlengkapan untuk balap mobil, seperti Helm dll. Tapi untungnya banyak pihak yang membantu dan mendukung saya seperti Ananda Mikola yang meminjamkan helm pribadinya kepada saya” terang mantan pembalap motor yang berhasil mengoleksi gelar 6 juara nasional dari berbagai kelas. “Kebetulan kemaren saya menjadi panitia INAPGOG Asian Para Games 2018 yang lalu, dimana M. Fadli berhasil menyumbangkan medali emas. Saya pun menawarkannya untuk turun balap mobil. Dimana saya akan menyediakan mobilnya, dan dia tinggal membalap saja. Dan dia mau.  Saya sangat mensupport M. Fadli untuk turun di balap mobil ISSOM. Apalagi orangnya baik hati, ramah, santun, dan taat beribadah atau sholat. Dimana dia bisa menjadi sumber inspirasi bagi semua orang untuk bisa melawan keterbatasan dalam mencetak prestasi” terang Ferry Yanto Hongkiriwang selaku Vice Chairman Gazpoll Racing Team, orang dibalik hadirnya M. Fadli di balap touring ISSOM.

This is motorsport. Walaupun dia pendatang baru alias the new kids on the block di balap mobil touring  Indonesia, namun setiap orang di Sentul mengenalnya sebagai pahlawan Indonesia yang berhasil mengibarkan bendera merah putih di balap motor dan Asian Para Games jauh sebelum dia berada dibalik kemudi roda empat. Dan setiap orang di Sentul, bahkan termasuk saya juga tergoda untuk menyapa, menjabat tangan, sambil mengucapkan semangat 45 kepada orang  yang punya jiwa “Racing is in my blood” dalam melawan keterbatasannya untuk berprestasi pada dunia yang dicintainya (motorsport atau racing).

Uniknya lagi, M. Fadli memakai glove sepeda balapnya bukan gloves khusus mobil balap. Gloves inilah yang dipakainya sewaktu Asian Para Games 2018 yang lalu dan mengantarkannya meraih medali emas.

Terutama posisi yang pas bagi kaki kirinya yang menggunakan kaki palsu yaitu kaki Prosthetic berbahan karbon., dimana akan sedikit kerja keras dalam mendorong pedal kopling atau clutch.

Atlet nasional paralimpik ini pun akan memulai startnya dari grid ke-9 dari 17 pembalap yang mengikuti race di Euro 2000 (Kejurnas) ini

M. Fadli pun berhasil menyelesaikan debut perdana di balap mobil nya dengan finish di posisi ke-8 (overall) dari 17 pembalap yang berlaga. Atau naik 1 peringkat dari posisi startnya di grid ke-9. Yang cukup mengejutkan dan amazing, dia berhasil finish di posisi 1 di kelas Euro 2000 Novice class dengan best timenya 1:54.142. Lebih lambat sekitar 20 detikkan dari best timenya ketika mengendarai motor Supersport 600cc ( 1:30an). di STC 1 (2100-3600) dengan finish di posisi ke-11 dari 19 pembalap dengan best timenya 1:54.796. Dan surprize nya lagi, dia juga berhasil finish ke-3 di kelas STC BMW 2100 yang berarti dia berhasil naik podium lagi.

Comments

comments!