JSTC : GOODBYE HOLY BRIO, HELLO 1600 MAX

Japan Super Touring Championship akhirnya memasuki seri penutup di musim balap 2018 ini. Dimana BSD City Grandprix 2018 menjadi medan pertempuran terakhir bagi para pembalap JSTC , terutama bagi ke-5 pembalapnya yang memperebutkan gelar juara umum dengan hadiah utamanya berupa Honda Brio dan uang tunai senilai 75 juta rupiah di 5 kelas yang dipertandingkan. Di ikuti oleh sebanyak 15 pembalap, dengan 4 pembalap dari kelas  baru 1600 max yang memulai trialnya pada seri ini. Amandio dari ABM Motorsport pun berhasil finish terdepan dan menjadi yang tercepat di JSTC BSDCity Grandprix 2018.

BSDCity Grandprix 2018 yang merupakan seri penutup musim balap 2018 ini menjadi seri perdana atau trial kelas baru JSTC, yaitu 1600 max dan 1800 max. Dimana  di kelas ini di ikuti oleh mobil Jepang yang di produksi di Indonesia dari tahun 1986 hingga sekarang, dimana wajib menggunakan mesin bawan aslinya 1.6 Lt atau 1.8 Lt (engine swap di larang).  Kelas baru ini pun diharapkan mampu menarik minat para pembalap baru yang ingin balapan, dan juga team pabrikan.

Seperti Toyota Team Indonesia-TRD yang menurunkan pembalapnya Demas Agil di JSTC 1600 max dengan Toyota Yaris. Dimana Demas memberikan kode keras ke saya ala K-Pop, yaitu Korean Finger heart “hangul” yang artinya I Love You. Opaa…Sarangheo

Ada juga pembalap dari Honda Jazz Speed Challenge dengan Honda Jazz GK5 nya yang ikut meramaikan kelas baru ini, seperti Hendrik Abenk

Muhammad Arief Hidayat dari Gazpoll Racing Team

Dan Hendra Widjanarko dari Speedy Motorsport yang biasanya bertarung di kelas JSTC 1A dengan Honda Civic Estilo atau EG6 nya, kali ini berada di dalam cockpit Honda Jazz GE8 nya.

Sementara Daniel M. Rumumpe atau Matthew dari Gazpoll Racing Team, akihirnya setelah sekitar 1 tahun menghilang, kembali lagi ke dunia persilatan dengan Evo IV nya.

Sementara Benny Santoso  dari Sigma Speed yang pada seri ke-5 yang lalu mencicipi JSTC di Sentul dengan GE8 Turbo milik Imin  Barata. Kali ini bertarung dengan toy machine nya sendiri, yaitu sebuah Honda Civic Type R FN2R yang tergolong langka di Indonesia. “ Saya memakai FN2R karena jatuh cinta dengan bodynya. Driving experience atau handlingnya hampir sama dengan Estilo, namun FN2R lebih condong oversteernya. Tapi masih lebih unggul FN2R karena mungkin ini Type R dan lebih rigid bodynya. Ya handlingnya hampir sama kaya naik Jazz GE8 lah. Untuk mesinnya masih asli bawaan pabrik yang sudah di modif, tenaganya sekitar 280 hp-an. Suspensinya ngembat Aragosta  bekas Jazz dulu. Big Brake kit nya pakai punya D2, sama ECU nya pakai Unichip. Saya ikut JSTC karena penasaran aja, mau tau maximum waktunya berapa “ terang pembalap yang menggunakan BMW E46 bermesin M3 di balap Euro 3000 Pro ini.

The V-Tec Boys is back. Mereka pun siap menghadapi sirkuit jalan raya BSD City Grandprix untuk yang ke-2 kalinya semenjak tahun 2017 yang lalu. Dimana BSD Grand Prix pertama kali di resmikan untuk street race, ditahun yang sama pula balapan khusus mobil Jepang ini mulai mengaspal di awal musim balap 2017. Mungkin karena kondisi BSD City Circuit yang sangat panas dan area pit ) nya yang berbeda atau wide open space. Kebanyakan pembalap terlihat kebanyakan ngadem di tenda

“Akhirnya JSTC memasuki seri terakhir atau ke-7 di BSD Grandprix, dimana balapan akan berlangsung sangat seru dan kompetitif. Apalagi tracknya beda dengan Sentul, yaitu jalan raya, dan suhu yang sangat panas membuat seri JSTC kali ini berbeda dengan 6 seri sebelumnya.

Comments

comments!