VW DRAG DAY 2018 : THE AIRCOOLED WAR

Honestly, saya bisa dibilang sebagai penggemar dari aircooled car, terutama  adik atau saudara kembar dari si Volkswagen Bettle ini, yaitu Porsche classic seperti 993 Turbo ataupun Porsche 911 classic. Tak ada balap Porsche di Indonesia, saya pun menyambangi  event one make race drag race VW yang pesertanya di ikuti hampir dari seluruh Indonesia. Yaitu VW Drag Day 2018 yang berlangsung di Sirkuit Kenjeran Park Surabaya, pada tanggal 7-8 April 2018 yang lalu.

That Porsche 356 feelings. Memang, baik VW Beetle dan Porsche mempunyai ayah kandng yang sama, yaitu Ferdinand Porsche. Bahkan VW Beetle lebih dulu lahir sebelum lahirnya mobil Porsche, yang kemudian Terciptalah Porsche 356 yang bisa dibilang copy pastynya VW Beetle.

Dari mobil yang tampangnya paling iconic sepanjang sejarah umat manusia, alias culun ala Herbie. Menjadi mobil drag paling gahar lengkap dengan wide body dan aerokit nya yaang menjulang tinggi demi sebuah kepercayaan “ In Downforce we Trust”. Tapi So far, sepengetahuan saya, wing atau spoiler yang menjulang seperti itu hanyalah digunakan untuk mobil balap track alias touring car, yang berfungsi untuk membuat bagian belakangnya grip. Sementara untuk drag race, spoilernya lebih landai dan memanjang ke belakang yang berfungsi untuk membuang air, dan mencegah udara dari atas tidak mengalir ke kolong belakang dan mengangkat nya. Jadi sudah tentu ini adalah VW Beetle mantan petarung balap touring ISSOM di Sentul International Circuit. Apalagi ada nama Eko Jagal Kediri di kacanya.

Jika Anda ingin melihat atau mendengar bahkan melihat, mesin flat four aircooled versi oem atau cupunya  Beetle yang hanya mampu memuntahkan  tenaga sebesar 25 hp dengan top speed  100 km/jam. Well, sepertinya Anda salah tempat. Anda mungkin bisa menemukannya di tepi lintasan ini. Tapi didalan track atau paddock, Anda akan menemukan sebiha Kodok super yang sudah di stroke dari 1.800 hingga 2.000 cc, porting polish,  high lift camshaft, dan tentu saja 4 barrel  yang menjulang tinggi keatas. Tapi soal suara, tetap khas suara mesin boxer atau aircooled yang garing namun empuk.

Yang jelas yang namanya mesin aircooled alias hanya mengandalkan pendingingan dari oli dan udara, pasti temperature nya mudah panas dan tidak sestabil mesin berpendingin air atau watercooled. Dan musuh utama dari power atau performance adalah panas, yang berarti semakin dingin udara yang masuk atau dingin mesin, maka performance pun semakin maksimal. Terlebih lagi pada mesin yang sudah di modif atau kompresinya sudah naik. Oleh karena itu beberapa Kodok pun terlihat memasang extravan pada bagian spoiler nya yang berfungsi mengarahkan udara dingin dari luar tepat ke lobang four barrelnya. Mengingat si kodok mesinnya di belakang, yang secara teori susah mendapatkan air segar karena terhalang body mobil.

Sebenarnya treatment semua mobil balap pasti sama, yaitu diperlakukan semanja mungkin alias sedetil mungkin terutama pada bagian paling vital dari sebuah mobil balap, terutama mobil jadul seperti VW Kodok, Yaitu mesin. Jadi tak heran jika bagian dashboard si kodok sudah dipenuhi dengan berbagai macam instrumen pemantau hidup nya si dapur pacu. Bahkan saya pernah melihat VW Kodok yang dipakai balap toruing di Sentul memakai  MSD Engine Knock Sensor Alert System yang berfungsi sebagai tanda bahaya jika mesin Anda nglitik.

Tapi dari semua VW Kodok yang ada, ada salah satu Kodok yang menurut saya tampang dan mesinnya paling powerfull. Meet Bangkong dari Bedjo VW Clinic yang bermarkas di kota Semarang, Jawa Tengah. Si Bangkong sendiri dipersenjatai dengan mesin flat four aircooled four barrel dengan stroker atau kapasitas mesin yang dibengkakkan menjadi sekitar 2.387 cc (86×94). Yang mungkin saya prediksi horsepowernya sekitar antara 300-400 hp an. Saya membandingkan dengan mesin Honda B20 yang sudah di stroker menjadi 2.2 Lt bisa mencapai sekitar 360 hpan. Dimana estilo dengan tenaga sebesar itu mampu melibas lintasan 201 meter di angka 8 kecil, bahkan 7 detik besar. Sementara 402 meternya bisa menyentuh angka 12 kecil atau bahkan masuk ke area holy land 11 detik besar. Mengingat si bangkong best timenya bermain di angka 8 kecil , jadi sepertinya pasukan all motor Honda mempunya pesaing dari kubu flat four aircooled bernama Bangkong.

Jadi Anda sudah tahu prakteknya di drag race jika Anda berhubungan dengan yang namanya horsepower dan torsi, maka hukumnya wajib untuk memakai ban slick. Dan Muzamil Rahman selaku owner dari Bedjo VW Clinic memasangkan Race Master M&H slick tires pada bagian depan dan belakang si Kodok yang konon katanya VW terkencang saat ini. Dan tak lupa juga wheelie bar pada bagian buritan belakang supaya si Kodok tidak njengat atau ndangak ke atas (wheelie). Bisa dibilang Si Bangkong merupakan generasi penerus  pasukan VW Kodok Dragrace di tengah redupnya orang memodif VW untuk drag race setelah pasukan VW MBG Yogya, VW Hantu Laut Jakarta, VW Nasi Uduk, VW Orbit, VW Losta Masta, dan Gobret Boom Boom Racing Team Surabaya di masa kejayaan mereka, yaitu tahun 90’an dan 2000 awal.

Yang jelas mungkin karena banyak orang penasaran dengan spec dan performancenya si Bangkong, dan Muzamil selalu menjadi mendapatkan pertanyaan yang sama. Jadilah owner dari si Bangkong tersebut menulis diatas hood atau kap depan si Bangkong yang berisikan 5 pertanyaan favorit yag sering ditanyakan kepadanya. Jujur, saya sendiri merasa kesulitan ketika menulis mengenai Bangkong ini. Bahkan Mbah Google pun tidak memberikan wangsit yang benar mengenai specnya Bangkong kepada saya. Alias tidak ada data spec ataupun horspower, yang ada hanya best timenya saja yang bermain di angka 8 detik kecil. Favorit saya, ada gambar kodok yang sedang..kentut.

Tapi tenang saja , untuk urusan kebersamaan dan gotong royong, saya rasa anak-anak VW jawaranya. Liat saja bagaimana mereka bisa berkumpul  menghadap ke mesin, sambil berdiskusi, dan mencari penyelesaian masalah pada mesin yang kurang fit. Meskipun mereka berbeda team

Comments

comments!