THROWBACK AT BSD CITY GP 2019

Masuk ke  race STCR 1 atau Super Touring Car Race 1 yang mempertemukan inline 6 Eropa dengan  four bangers turbo dari daratan  Jepang yang tampak seperti modern gado-gado DTM ala jaman now.

Dan tentu saja PR atau pekerjaan rumah bagi para pembalap yang menggunakan inline six dengan power yang besar seperti Budi adalah bagaimana keluar dari hairpin atau tikungan secepat mungkin dengan speed yang tidak lambat, tapi tanpa pakai acara drifting atau ngepot segala. Namun tetap saja si Budi dengan BMW Z4 GT3 M3 nya ngepot ketika hendak keluar dari hairpin. Namun Budi berhasil finish di posisi ke-3 overall dengan best timenya 1:45.205, dan juga merebut podium pertama di kelas Porsche M3 dan ke-2 di kelas FFA

Namun bukan namanya pembalap jika di dia tidak bisa cepat beradaptasi dengan track baru. Itu terbukti pada pembalap muda Gerhad Lukita dari ABM Motorsport dengan E36 M3 nya yang berhasil finish terdepan atau overall di STCR1 dengan best timenya 1:38.989. Putra dari pembalap senior Jimmy Lukita ini juga berhasil merebut podium pertama di kelas STCR BMW 3600 dan FFA, meskipun penuh perjuangan hingga mirip sedang drifting ketimbang touring.

Track BSD kali ini juga kalo saya lihat area grid atau start nya lebih lebar dan lurus tidak melengkung ke kiri seperti pada track sebelumnya, yang membuat para pembalap bisa gaspoll lurus melewati garis start sebelum mulai melngekung ke kiri selepas garis start menuju chicane pertama

Di STCR 2 atau Super Touring Car Race 2, pertarungan antara four bangers Eropa sekelas BMW, Mercedes Benz, Peugeot pun tak kalah sengit dengan para pejuang for banger JDM asal daratan Matahari terbit.

Di street circuit juga mempunyai angle yang khas bagi kita tukang photo keliling. Angle yang nylempit atau mepet diantara baja pembatas. Trust me guys angle ini membuat encok atau pinggang saya pegal.

Pertarungan sengit  antara 2 JDM cars karburator (KE70), dan injeksi (EG6) pun terjadi di STCR 2 ini antara Apip Ginanjar (KE70) versus Hendra Widjanarko (EG6) untuk memperebutkan posisi ke-4 overall. Akhirnya dog fight di beberapa lap ini di menangkan Apip Ginanjar dengan KE70 bermesin 3SGE four barrel nya yang finish di posisi ke-4 overall dan merebut podium pertama di kelas STCR Retro 2000 dan podium ke-2 di kelas FFA dengan best timenya 1:47.674. Sementara Hendra sendiri harus out dari race atau D.N.F pada lap ke-7 akibat kerusakan pada mobilnya.

Sementara raja atau the King of STCR 2 street circuit kali ini adalah Aldio Oekon dari Banteng Motorsport yang berhasil finish terdepan dengan best timenya 1:41.347. Oekon pun berhasil bertengger di podium pertama BMW 2100. Dimana Oekon juga berhasil keluar sebagai juara nasional Euro 2000 2019.


Masuk di ITCR Max atau Indonesia Touring Car Race Max. Yang unik disini adalah pertarungan antara 2 tim pabrikan yaitu Toyota Team Indonesia-TRD dengan Honda Racing Indonesia dalam perebutan gelar juara nasional ITCR Max 2019 ini. Dimana seperti yang sudah diketahui Haridarma beserta TTI terkena sanksi akibat penggunaan part (intake) yang illegal pada putaran ke-4 atau night race, sehingga menyebabkan seluruh point Haridarma hangus  dari seri sebelumnya. Namun dihampir sisa race yang tersisa di musim balap 2019 ini (termasuk BSD GP 2019), Haridarma berhasil finish terdepan mengungguli Alvin Bahar (Honda Racing Indonesia). Pihak TTI pun di akhir balapan merayakan kemenangan pembalapnya atas gelar juara nasional ITCR Max. Karena menurut tim panel banding point Haridarma hanya hangus pada round 4 saja.

Sementara Alvin Bahar dari Honda Racing Indonesia yang hanya finish ke-2 di belakang Haridarma pada race kali itu juga mengklaim kalo mereka lah yang keluar sebagai juara nasional ITCR Max 2019, karena Haridarma kalah point dari Alvindimana point Haridarma hanya dihitung semenjak round 5,6, dan 7 (BSD) (point seri 1-4 Haridarma Dihapus menurut SK IMI terakhir).

Backdrop Alvin Bahar sebagai Juara Nasional ITCR Max 2019 pun baru keluar pada saat race sudah selesai atau benar-benar tim EO mau bongkar-bongkar tenda bukan pada saat selesai race ITCR Max. Itu saja saya ingat untuk kenang-kenangan photo sama backdropnya selagi menunggu keputusan final kata Mas Alvin. Dimana backdrop ini posisinya dibelakang backdrop juara umum HJSC dan HBSC. Tapi dengan keluarnya Surat Keputusan IMI yang ditandatangi langsung oleh Ketua IMI Sadikin Aksa yang menegaskan point HAridarma dari round 1 hingga ke-4 dihapus, maka secara otomatis title juara nasional pun jatuh ke tangan Alvin Bahar dari Honda Racing Indonesia. Wajar saja kalo perang antar ke-2 tim pabrikan ini sangat sengit, karena ujung-ujungnya mengenai marketing tools berupa poster promosi produk mereka. Karena bagaimanapun juga dari jaman dahulu motorsport merupakan bagian yang tak terpisahkan dari promosi pabrikan mobil.

Masuk ke race paling akhir BSD GP 2019, yaitu DTM ala Indonesia, yaitu European Touring Car Championship.

Dimana pada race ETCC kali ini  pihak promotor menggabungkan  para peserta yang berasal dari race Euro 2000 untuk satu race dengan Euro 3000.  Yang membuat race Euro 3000 kemaren terlihat sangat unik dan menarik, karena BMW E36 2.000 cc dan Mercy 190E  2.0000 cc menempel ketat atau kucing-kucingan  dengan Porsche atau E36 bermesin M3 (3.600)

Namun yang namanya street circuit pasti punya nama tengah “danger” alias bahaya yang mengintai dari balapan yang lebar lintasannya sempit dengan baja pembatas di kiri-kanan hinga salah sedikit pasti langsung mencium baja. Salah satunya insiden yang paling parah yang pernah terjadi di BSD GP. Yaitu Insiden yang menimpa Nanang Hamdani (E36) dan Fadil (190E) yang terjadi di chicane pertama. Dimana Nanang dan Fadil yang terlibat dogfight dari awal lap ini, harus berakhir tragis disaat Nanang yang berusaha masuk chicane dari sisi dalam menabrak Fadil yang berada disisi luar akibat remnya blong, lalu Nanang mental menabrak ke beton pembatas, dan akhirnya kembali lagi mental mengenai Fadil yang masih berada di sisi luar hingga akhirnya Fadil bersama 190E nya airbone ke udara dan Nanang terpental kearah yang berbeda. Sehingga menyebabkan ke-2 mobil rusak parah, terutama 190E Fadil.

Fadil yang sempat black out selepas insiden tersebut lalu di sadarkan kembali oleh Nanang yang langsung menghampiri Fadil yang masih tak sadarkan diri di dalam cockpit mobilnya.

Selepas sadar, pembalap arek Suroboyo itupun mengajak Fadil duduk bersama di tepi lintasan sambal tertawa menyaksikan mobil merek remuk. Bromance and sportsmanship ditunjukkan oleh Nanang Hamdani pada saat terjadinya insiden ini

Dan akhirnya setelah race ETCC di BSD GP 2019, Rudi SL dari Fastron Jakarta Ban Racing Team yang finish di posisi ke-3 berhasil keluar sebagai juara nasional Euro 3000 Mengungguli Benny “ The Pantura Boys” Santoso dari Sigma Speed  yang berada di posisi runner up Euro 3000.

BSD GP 2019 pun usai sudah, yang berarti musim balap 2019 pun berakhir. Dimana event BSD City GP bisa digelar untuk yang ke-3 kalinya ini berkat support yang luar biasa dari Bupati Tangerang, A. Zaki yang juga ikut turun balap bersama timnya Landy Land. See ya in 2020 race season guys…

ISSOM 2019 ROUND 5

 

Bayu Sulistyo

IG : @bayusulistyoo

 

*Like us on Perfourm Facebook Fanpage

*Follow us on Instagram: @perfourm

*Hashtags your photo with #PERFOURMMACHINEHEAD, and you can be on Perfourm.com

*Hashtag your car project with #BUILDTORACE and #BUILDTOPERFOURM, and you can be on Perfourm.com

Comments

comments!