2019 SEPANG 1000 KM, THE ENDURANCE RACE OF 1.6 LT OR LESS.

Setelah pada tahun 2017 yang lalu saya mengawal Rio R. Bramantio pembalap dari kota Surabaya yang mengikuti balap endurance seharian yang di ikuti mobil-mobil kecil ber cc dibawah 1000 cc , atau Kcar Global 24H Sepang Endurance Race. Maka dpada November 2019 yang lalu saya pun kembali lagi meliput balap endurance Sepang 1000 Km di Sepang International Circuit Malaysia, yang jika dijamkan mungkin sekitar 9 jam setengah dikali 5,5 km.

Well yang namanya balap endurance yang berarti balap ketahanan, sudah pasti yang test ketahanannya yang paling utama adalah si mobil balap yang dihajar nonstop selama kurang lebih 9 jaman, lalu kemudian pembalap yang maksimal setiap mobil 4 orang, dan minimal 2 orang. Dan tentu saja para mekanik atau pit crew yang juga di uji tahan banting meladeni complain para pembalap dan juga si mobil. Dimana para pembalap wajib bergantian setiap 90 menit.

Sama seperti balap endurance lainnya, setiap mobil pasti ada limit pada beberapa bagian yang harus di ganti atau disi ulang. Umumnya ada 2 hal yang dilakukan pada balap endurance, yaitu refueling dan tire changing.

Dan tentu saja bagi kami tukang photo keliling atau journalist maupun media, balap endurance berarti pekerjaan endurance juga bagi kami untuk bisa mengabadikan moment dari mulai official practice day, qtt, hingga balap 1000 km yang dimulai dari jam 12:30 an hingga jam 21:15 malam. Dari mulai kering, basah, kering, hingga akhirnya basah lagi. I wish saya punya lensa tele mumbo jumbo tersebut, lensa tele (400mm keatas)  wajib hukumnya jika Anda berada di track yang mempunyai sertifikat halal Moto GP ataupun F1 karena jarak dari tepi lintasan atau gravelnya yang sangat jauh.

Berbeda dengan balapan di Indonesia. Jika di Indonesia, beberapa scrutineering hanya menyasar pada helm saja . Maka kalo di Sepang atau Sepang 1000 Km, seluruh safety gear yang melekat pada tubuh si pembalap akan di scrutineering abis-abisan. Itu berarti mulai dari helm, hans, balaclava, racing suit, gloves, kaos dan celana dalaman (inner), kaos kaki, sampai sepatu balapnya juga. Intinya semuanya harus ada sertifikat halal FIA approved. Makanya jangan heran antriannya kelewat panjang dan macet, bahkan lebih lancaran antrian scrutineering mobilnya daripada pembalapnya. Pihak Sepang sendiri memberikan kompensasi atau keringanan berupa gear yang sudah expired (lebih dari 5 tahun dari pembuatannya), asalkan ada embel-embel FIA Approved. Kalo tidak ada embel-embel FIA nya maka,biarpun mau brand terkenal apapun tetap aja di banned alias tidak boleh ikut race. Mau nakalan atau tetep bandel pakai barang tadi yang tidak lolos scrut? Well, kalo sedang apesnya ada Razia mendadak dan random, dan Anda ketahuan. Maka sanksi sangat berat menanti Anda

But 1st, saya harus menaklukkan tanjakan masuk ke dalam tepi lintasan Sepang dengan..sepeda ontel. Ya sepeda ontel. Dan trust me guys, saya hanya mampu sampai diujung tanjakkan dengan napas yang ngos-ngossan dan kaki mau lepas hingga akhirnnya saya memutuskan untuk turun dari sepeda dan menuntunnya saja.

Dan begitu sampai di tepi lintasan saya pun langsung mengambil sangu atau bekal saya yang terdapat dikeranjang depan. Napas saya masih ngos-ngosan dan dengkul saya serasa mau copot setelah terpaksa melewati tanjakan pertama tadi. Namun untungnya gowes boy saya Cuma terjadi di hari Jum’at nya saja atau sewaktu QTT. Dimana pada race day nya saya mendapatkan pinjaman motor yang membuat mobilitas saya jauh lebih muda, dimana ketika jam 12:30 an dimana race di mulai, saya ngendon di posisi R1 atau  turn 1. Dan beberapa menit kemudian saya ngronda atau tawaf Sepang sirkit. Sepang 1000 Km kali itu di pimpin oleh Suzuki Swit dari Tedco Racing (hitam) berhasil meraih pole position yang dicteak oleh pembalap nasional Indonesia, Fitra Eri. Dima Tedco racing diajak dog fight oleh tim pabrikan mobnas atau mobil nasional Malaysia, Proton Iriz di posisi ke-2.

Karena ini adalah balap ketahanan atau endurance race khusus bagi mobil ber cc mentok 1.600 cc. Maka tak heran balapan ini di penuhi oleh city car yang lazim kita temui di jalanan kota Indonesia, kecuali Proton. Seperti Suzuki Swift GT yang merupakan mobil paling mainstream atau paling banyak digunakan oleh team-team yang bertarung di Sepang 1000 Km karena cc nya bisa dibilang paling besar sendiri yaitu 1.600 ccc alias 1,586 cc. Beda hampir 100 cc dengan city car lainnya seperti Honda Jazz GK5 bermesin L15B (DOHC 1.498cc), dan Toyota Vios (1.496cc)

Swift sendiri paling banyak digunakan oleh team-team besar untuk bertarung di kelas M – Production alias kelas modifikasi. Termasuk salah satu team besar dari Singapura yaitu Clearwater Racing yang merupakan team besar yang sering turun di ajang balap GT Asia hingga 24h LeMans dengan Ferrari 488 GTE

Sementara mobil favorit ke-2 adalah Honda Jazz GK5 baik yang bermesin L15A (SOHC) maupun L15B (DOHC). Cuma sejauh mata memandang yang umum digunakan oleh para team Malaysia ini adalah GK5 yang sudah di swap dengan mesin L15B DOHC yang berasal dari Honda Fit JDM (Jepang) yang tenaganya lebih besar 12 hp (130 hp) dari versi SOHC nya (118). Namun masih kalah dengan mesin M16A Suzuki Swift yang bertenaga 136 hp.

Disamping powernya yang sudah menyentuh angka 130 hp untuk versi stocknya, familiar adalah alasan dari Rio R. Bramantio yang bela-belain membeli GK5 baru di Malaysia lalu menswapnya dengan L15B untuk mengikuti race di Sepang 1000 Km di kelas S-Production atau stock.

Termasuk juga team Indonesia lainnya, yang mempunyai line up pembalap seperti Steven Teo, Ricky Dianto, Welly Wibowo, dan Henry. Yang mengandalkan GK5 untuk bertarung di Sepang 1000 Km ini.

Comments

comments!