COROLLA DX/KE70 BIBLE – PT.2, END

Setelah pada part pertama kita membahas DX yang di swap dengan mesin 4AGE hingga pindah agama ke Honda (F20C dan K20R). Maka di part ke-2 ini kita akan membahas mengenai beberapa DX di Indonesia yang di masukkan mesin legendaris Yamaha x Toyota, yaitu 3SGE yang merupakan powerfull 4 cylindernya dari pabrikan Toyota.

Beberapa bahkan yang menggendong mesin ini menjadi DX tercepat dalam melahap 1 putaran Sentul International Circuit. Dan bahkan some say biaya modifnya menghabiskan berpuluh-puluh kali lipat dari harga mobilnya (jika 1 DX sekitar 20/30 jutaan), alias ratusan juta.

Setelah pada part pertama kita membahas DX yang di swap dengan mesin 4AGE hingga pindah agama ke Honda (F20C dan K20R). Maka di part ke-2 ini kita akan membahas mengenai beberapa DX di Indonesia yang di masukkan mesin legendaris Yamaha x Toyota, yaitu 3SGE yang merupakan powerfull 4 cylindernya dari pabrikan Toyota. Beberapa bahkan yang menggendong mesin ini menjadi DX tercepat dalam melahap 1 putaran Sentul International Circuit.

Dalam silsilah keluarga mesin balapnya Toyota yang 4 cylinder, jika 4AGE masuk kategori kelas bantam (medium), maka 3SGE bisa dibilang masuk kelas heavy weight  atau kelas berat nya high performance 4 cylinder nya Toyota. Buktinya balik ke tahun 90’an dimana hampir semua sport car sekelas Supra yang berlaga dari JGTC hingga di 24h Le Mans lebih memilih menggunakan 3SGE dibandingkan 2JZ bawaannya dengan alasan lebih ringan dan powernya juga bisa dibengkakkan hingga 500 Hp. Supra JZA80 yang segede gaban (1.115 kg) aja bisa ngacir, bagaimana kalo di taro di DX yang beratnya cuma 957 kg. Beberapa pembalap atau team milih mesin bertenaga 207 hp ini untuk mempersenjatai dari mobil touring hingga rally mereka yang pasti unggul power weight to ratio nya. Salah satu bengkel spesialis Toyota yang menerima engine swap dan tuning balap di kota kecil atau diluar kota besar adalah Sentot dari workshop SAF kota Tegal, Jawa Tengah

SAF di kota Tegal yang dikomandani oleh Sentot yang pasiennya rata-rata memboyong mobil DX atau Corolla, Starlet KP, dan  lainnya yang minta di engine swap atau detuning mesin mulai dari 4AGE hingga 3SGE, dan mulai dari slalom hingga rally.

“Minimal buat engine swap yang ga asal-asalan. Mulai dari gardan, kopel, sampai engine + brake system plus cooling system kurang lebih kena 100 juta an. Sudah termasuk stand alone EMS (Australia). Tapi harga segitu di luar suspensi dan belum level aftermarket BBK seperti Brembo atau AP Racing. Alias masih level ex OEM mobil lain.

“ Kalo DX saya lebih prefer 4AG. 3SG kenceng tapi handlingnya jelek dan berat. Tapi sekarang saya lebih prefer 2ZZGE, karena di Malaysia sekarang lagi ngetren pakai 2ZZGE. Paling sip saat ini menurut saya untuk mesin Toyota  jatuhnya di 2ZZGE yang dikawinkan dengan gearbox ex 3SGE BEAMS. Dimana power dari 2ZZGE beda tipis dengan 3SGE, 2ZZGE 189 hp dan 3SGE 207 hp. Namun 2ZZGE lebih unggul karena ringan terbuat dari alloy cylinder block (almunium), sementara 3SGE dari iron cylinder block (besi). Joss lagi kalo di oplos bawah 2ZZFE (RAV4 2.0 Lt) atasnya 2ZZGE (Celica FWD 1.8 lt). Dimana 2ZZGE bisa dibilang i-Vtec nya Toyota. Tapia da ribetnya juga swap 2ZZGE ke dalam DX, dimana kita mesti modifikasi oil pannya, karena oil pan nya flat kaya K20 Honda. Jadi mesti di coakin buat cross member” terang Sentot dari Workshop SAF kota Tegal yang dulunya buka di kota Yogyakarta ini.

Dari kota ngapak Tegal yang terkenal dengan Sate Kambingnya, kita beralih ke kota Lumpia, alias Semarang. Dimana ada salah satu bengkel terbaik spesialis DX di Indonesia, yaitu JT Performance oleh duet Ayah dan Anak, Bambang S dan Indie. Dimana sang ayah yang mulai merintis menjadi mekanik nalap semenjak tahun 80’an ini, ikut melahirkan dan mengawal pada pembalap nasional slalom hingga Rally dari kota Semarang seperti dr. Herry Agung, Ricky Herdianadll. Tak hanya itu mereka juga terkenal dalam pengerjaan restorasi atau membuat si DX kembali virgin alias perawan ting-ting meskipun  sudah berumur hampir 40 tahun dan sudah bolak balik kawin dengan beberapa ownernya. Salah satu DX yang lahir dari bengkel ini adalah DX Rally bermesin 3SGE 4 barrel  milik Boyke

Tak hanya engine swap saja, workshop ini juga merima pengerjaan body, roll cage dan detailnya sesuai pesanan atau tema.

Seperti rally roof vent model jadul di atap atau roof Corolla DX ini yang berjumlah 2, 1 di driver dan 1 di navigator yang membuat ke-2 orang di dalam mobil dapat menghirup udara segar bukan debu.

Workshop yang berdiri pada tahun 2008, dan pada awalnya hanya untuk bengkel/project sendiri ini mempunyai mesin andalan yang di pakai untuk bertarung di lintasan rally, yaitu 3SGE. Dari workshop yang terletak di kota Semarang ini lahirlah racikan 3SGE 4 barrel  yang mampu memuntahkan tenaga sebesar 160-170 hp yang diracik dengan gearbox semi close, kaki-kaki gado-gado TRD dengan brand lainnya.

Racikan dari JT Performance ini sudah dianggap mumpuni atau sakti mandraguna dalam melibas track spirnt rally atau pun rally panjang. Maklum menurut sang owner DX ini, MBN Boyke Indrajaya, mesin 170 hp 3SGE four barrel nya mampu digeber hingga 9.000 rpm

“ Saya pilih DX jadi mobil Rally karena nostalgia. Dulu tahun 80’an udah pakai DX GT untuk rally. Dulu masih pakai mesin 2TG. Toyota Corolla DX modelnya masih keren dan gagah. Kalo sekarang pakai mesin 3SGE karena mesin ini masih compatible untuk digunakan di mobil rally. Sparepartsnya juga  masih banyak. Serta menurut saya pribadi, 3SGE paling cocok dan pas untuk berkompitis di dunia rally Indonesia. Mesinnya bisa di geber sampai 9.000 rpm. Jadi tenaganya pas  untuk dipasang di Toyota Corolla DX. Kalo ditanya habisnya berapa untuk DX coklat buat rally saya jangan ditanya dah, mungkin sudah abis 350 jutaan” terang perally asal Surabaya yang juga balapan dengan Evo IX ini.

“ Body yang bagus sangat berpengaruh dalam bangun body buat balap, terutama reli. Kalo bahannya udah jelek  pasti ga bakal bisa maksimal. Naikkannya ga enak, dan pasti dandan body terus” terang Bambang. S ayahanda dari Indie yang sudah mulai mengutak-atik DX dari tahun 80’an

“Saya sudah mulai kenal DX dari tahun 2000’an. Awalnya iseng-iseng utak-atik mobil sendiri buat balap (sprint, slalom, dll).terus keterusan.. Kalo bapak memang udah kenal DX dan seperangkat mesin serta perkarburatoran 4 barrel duniawi dari tahun 80’an. Pilihan kita ke DX karena part kompetisinya banyak dari yang middle down  hingga high end, tergnatung budget dan kelas kita mau kemana. Karena di luar, platform body dx, suspensi, mesin dll sama seperti AE86. Jadi full of option, dan masih bisa di develop sampe sekarang. Kalo untuk budget biasanya sekitar 200 juta’an buat reli yang spek middle. Dan balik lagi tergantung budget dan kelas kita mau kemana?” terang Indie yang juga merupakan perally dengan DX ini.

Comments

comments!