COROLLA DX/KE70 BIBLE – PT.2, END

Dari Ekadana kita beralih ke Toyota Corolla DX milik Bambang Hutomo dari Jakarta Ban Motosport. Dimana bisa dibilang bentuk DX nya sudah six pack atau ngotak-ngotak dimana-mana ala mobil balap silhouette Nissan Skyline R30 dan Nissan Silvia S12 yang terkenal pada era 80’an.

Wide body nya yang cukup lebar dengan vent disampingnya. Uniknya desain body kit mobil ini berasal dari game custom Playstation on line, dimana Bambang dan anaknya terinspirasi dari situ sehingga timbul niatan untuk merubah tampilan Corolla DX menjadi berbeda, namun sisi aerodinamisnya juga dapat.

Untuk urusan dapur pacunya, dibalik hood DX ini pun terdapat mesin 3SGE BEAMS edition (Breakthrough Engine with Advanced Mechanism System) yang menggusur mesin 3K nya lengkap dengan individual throttle bodies atau ITB’s yang merupakan versi injectionnya dari four barrel. Dimana power out put standartnya saja sudah mencapai 207 hp, apalagi dengan beberapa part racing didalam mesin yang di modif oleh Barto dari Bar Speed, dan di otaki oleh Motec M400 yang dituning oleh Togi dari GE Racing.

Best time dari DX paling gila dalam urusan aero kit ini adalah STC Retro dengan best timenya 1:47.576 yang dicetaknya pada STC Retro pada ISSOM 2018 rd.6 yang lalu. Yang menjadikannya DX terkencang di Sentul International Circuit, dan mungkin se Indonesia (track)

“ Saya mulai balap pakai DX dari tahun 2010. Alasan pake DX karena awalnya memnag lagi pengen nyoba balap di Sentul tapi pengen yang biayanya ga terlalu besar, yang akhirnya kepikiran mobil-mobil retro. Akhirnya pakelah DX. Kebetulan DX mobil idaman dari jaman SMP. Alhamdullilah tercapai. Pakai DX buat balap touring dengan mesin dan hp besar sangat menantang, karena mobil yang kita pakai sudah tua, dimana dari body sampai kaki-kaki sudah pasti tidak ada yang beres. Tapi disini lah yang membuat saya penasaran bagaimana bisa menguasai dan mmembuat mobil ini kencang. Tapi overall dari pertama kali develop mobil ini sudah seuai dengan apa yang saya inginkan, mulai dari engine, parts nya, kaki-kaki, dan white body nya. Biayanya? Wah ga brani nyebut saya. Kalo perbandingannya kira-kira bisa dapat 2 Innova deh.hahaha “ terang Bambang Hutomo, pembalap yang sudah mulai tancap gas semenjak tahun 80’an ini.

Jika DX milik Tomay dahsyat, sakti mandraguna, dan menjadi DX tercepat di Sentul dengan injeksi individual throttle nya. Maka di belakang DX Tomay atau Bambang Hutomo ada lagi salah satu jebolan dari Barspeed yang menjadi DX tercepat ke-2 di Sentul namun dengan teknologi jadulnya, yaitu karburator four barrel.

DX ini menjadi salah satu DX terkencang di Sentul dengan  bermesin 187 hp 3SGE BEAMS 4 barrel milik Apip Ginanjar.  Dimana Apip yang berhasil memecahkan circuit record lap yang sebelumnya dipegang oleh Robert Paul dari Garden Speed dengan Alfa Romeo GTV nya. Padahal sebelumnya di seri ke-3 kemaren (Agustus), Apip berhasil pecah telor rekor Robert Paul yang bertahan dari tahun 2013 (1:49.729) dengan waktunya 1:49.147. Namun kemudian pada QTT yang sama (rd.3 juga)), Robert Paul pun membalasnya lagi dengan memecahkan rekornya Apip menjadi 1:48.717 (new circuit record lap). Dan akhirnya selang 2 bulan kemudian atau pada saat QTT round.5, Apip memecahkan rekor milik Robert Paul lagi dengan waktu 1:48.607

Oh yes guys. Ini ibarat makanan fusion, dimana mesin teknologi baru, yaitu 3SGE BEAMS yang basicly injection plus dual VVTi. Namun dikawinkan dengan karburator 4 barrel. Nmun kuncian atau dirty little secret dari kesaktian mandraguna 3SGE bertenaga 187 hp racikan Barspeed ini adalah terletak pada bumpstick atau camshaft nya yang bisa mencetak best time 1:48.607. Dimana camshaftnya mencomot dari 3SGE yang dipakai pada Toyota Supra JGTC GT500 yang pernah berjaya ditahun 90’an.

“ Saya mulai balap Retro pakai DX semenjak tahun 2008 yang lalu, alasannya ya barangnya melimpah dan murah. Dan juga DX handlingnya kurang lebih kaya AE86. Sasisnya lentur karena 4 pintu, makanya harus di hitung dengan baik reinforced nya, dan jangan terlalu rigid.Nyetir DX buat balap itu bawanya harus “Baper” dan extra waspada. Yah Maklum aja tetap besi tua alias life begin at 40 bro. Sama kan kaya umurnya DX di tahun ini. Wkwkwkw. DX yang saat ini adalah DX ke-2 , dimana DX yang pertama dipakai untuk touring dan drifting di tahun awal di beli sama Rio SB. Dan gue  uda nyoba hampir semua mesin Toyota. Dari 4AGE, 7AGE (Frankestein), 3SGE (non vvti), 3SGE BEAMS red top sampai yang black top. Jadi Udah hapal bener karakter  baik itu mesin ataupun bodi DX dipasang di mesin 4AG ataupun 3SG

Memang 3SG lebih berat dibandingkan 4AGE, tapi untuk horsepower dan torsi jelas sangat berpengaruh besar kepada time lap di Sentul. Karbu itu justru setingannya ga ribet dibanding injeksi alias The Power Of Obeng. Hahaha

Sesuatu hal itu didapat dari perjuangan, tidak ada yang instan. Sama seperti perjuangan saya dengan DX ini dari tahun 2008 bisa sampai di posisi saat ini. Kuncinya  adalah percaya diri, dan jangan pindah-pindah bengkel. Kasih kesempatan mekanik untuk meriset dan improvisasi. Selain itu juga jam terbang, dan mau belajar dari pembalap senior. Khususnya yang biasa bawa RWD

Next plan nya, sequential dan dry sump, sampai benar-benar pengen tahu batas maksimal DX di Sentul itu berapa “ Tutup Apip Ginanjar.

Namun dibalik semua mobil DX atau Toyota terkencang / berseliweran di Sentul, ada satu sticker yang menempel di kacanya, yaitu Barspeed. Adalah Barto pria asal Medan yang pada awal mulanya datang merantau ke Jakarta dan menjadi mekanik Metro Mini milik saudaranya. Dibalik tangan dingin Barto dalam membangun monster 4AGE 20 valve Nalomlom Starlet Bakpau (402m – 13,1 & 201m -8,8 dtk) dan Corrola GTI (402m – 13,7 dtk, 201m – 9,2 dtk) milik Boy Juliadi di tahun 1996, semenjak saat itu spesialis Toyota pun menjadi trademark bengkel yang berdiri semenjak tahun 1989 dan  terletak dijalan H. Arsyad, Jakarta Selatan ini

” DX menurut saya spesial karena kelebihannya bisa dipasang mesin apa aja. Mau dari Toyota sendiri maupun merk lain. Kekurangannya tidak semua part standart yang bisa dipertahankan. Untuk mesin yang cocok di swap pada DX di kelas 1600 menggunakan 4AGE 16 valve, dan untuk di kelas 2000cc menggunakan 3SGE BEAMS sudah terbukti kencang dengan standar powernya, dan mudah di cari part racing nya otomatis spec yang kita inginkan mudah didapat.

Dan sebenarnya tidak ada perbedaan di mesin 2 DX tersebut (Tomay dan Apip). Hampir tidak ada dirahasiakan dan pengerjaannya pun hampir sama dengan yang lainnya. Yang membedakan hanya karakter injeksi dan karburator. Kunci utamanya dalam memodif untuk balap pada mesin, rem, dan suspensi yang wajib diperhatikan paling utama” Terang tuner yang awal mulanya belajar memodifikasi mesin dari membaca buku-buku luar negeri milik owner Datsun kotak 510 dan Toyota Starlet yang dibangunnya di tahun 1989 (awal mula berdirinya Barspeed)

Satu hal yang pasti versi OEM nya DX sudah cakep dan mempunyai potensi untuk dijadikan mobil modif baik car show, retro, ataupun balap. Tapi balik lagi ke UUD (UjungUjungnya Duit), dimana bukan lagi kadang tapi sering modif mendandani DX budget nya lebih besar daripada harga DX itu sendiri. Yang jelas mau pakai part kanibal, jadul, second, oem, bahkan fake part pun, asal kita punya taste dan bener ndandaninnya. DX ini bisa shine bright like a diamond. Tapi kalo urusan performance atau best time, nanti dulu..balik lagi ke pasal satu..yaitu UUD alias Ujung Ujungnya Duit alis Budget. Bengkel hanya mengarahkan sesuai dengan stage atau budget yang Anda tentukan. Good buy or good bye DX. Your choices gaaess…

COROLLA DX/KE70 BIBLE – PT.1

 

Bayu Sulistyo

IG : @bayusulistyoo

 

*Like us on Perfourm Facebook Fanpage

*Follow us on Instagram: @perfourm

*Hashtags your photo with #PERFOURMMACHINEHEAD, and you can be on Perfourm.com

*Hastags your car project with #BUILDTORACE and #BUILDTOPERFOURM, and you can be on Perfourm.com

Comments

comments!