DAY 3 : SS3 + SS4 + CHAMP OF THE CHAMP
Minggu, 14 September 2014 adalah hari ke-2 dari gelaran Indonesia X-Treme Offroad Racing seri ke-4 di musim balap 2014.
Sebelum memulai SS2 dan SS3, Pertamina Fastron Offroad Team melakukan doa bersama.
Doa bersama itu dipimpin oleh Rifat Sungkar yang didampingi oleh MBN Boyke. Dalam pesan singkatnya perally berusia 36 tahun ini meminta supaya race day kali ini diberikan kelancaran,keselamatan, dan kemenangan. Mengingat pada sehari sebelumnya di hari 1/ SS1 dan SS2 team ini menuai hasil yang tidak memuaskan.
Saya ingat perkataan Rifat sehari sebelumnya setelah dia menghitung jarak waktunya dengan yang tercepat di kelasnya. 7 menit gap nya. Pria yang memiliki AE86 pun berkata “tidak mungkin kita bisa mengejar 7 menit, jaraknya sudah terlalu jauh
But the show must go on. We have to finish what we started
SS 3 pun dimulai. Rifat dan Boyke pun mulai melesat dengan cepat melewati garis start
Menuju straight 200. Boyke merasakan bahwa mobilnya terasa lebih kencang daripada SS sebelumnya. Maklum NOS Solenoid nya sudah di ganti dengan yang baru, sehingga membuat pasokan NOS kedalam mesin nya menjadi lancar.
Pajero Sport ini melewati staright 200 lalu over jump dengan kecepatan yang cukup tinggi
Namun sayangnya ketika mendarat dari over jump tersebut, untuk yang ke-2 kalinya mesin Pajero Sport ini mendadak mati.
Mobil pun terpaksa di tarik ke luar lintasan
Crew mekanik yang sudah stand by di tepi lintasan langsung menghampiri pasangan ini, dan mencoba mengecek apa yang menjadi biang kerok dari matinya mesin Pajero Sport ini. Ternyata yang menyebabkan matinya mesin sekring yang putus lagi seperti SS ke2
Untuk yang ke-2 kalinya perally internasional ini mengalami nasib kurang beruntung akibat masalah sekring yang menyebabkan mesin Pajero Sportnya mendadak mati di tengah lintasan.
Terlihat jelas sekali raut muka kekecewaan Rifat Sungkar pada hari itu, dimana pada SS ke-3 ini dia mengharapkan bisa finish dengan fastest lap. Atau setidaknya bisa finish saja dengan catatan waktu yang lebih baik daripada SS sebelumnya.
Namun realita berkata lain, dia harus menyelesaikan SS ke-3 ini dengan gelar D.N.F alias Did Not Finish.
Akhirnya jalan satu-satunya untuk mengakhiri matinya mesin dari si trouble maker, adalah mengganati lagi sekringnya dengan yang baru.
Selagi para crew mekanik me maintance Pajero Sport tunggangan Rifat dan Boyke. Rifat pun menyapa para fansnya yang dari tadi sudah bergerombol menunggu kesempatan untuk bisa berphoto bersama dan meminta tanda tangan dari Rifato..
Tak lupa juga crew dari Pertamina Fastron Offroad team membagikan poster Rifat Sungkar yang bisa ditanda tangani oleh Rifato
Yang harus dilakukannya adalah “Keep Smile” dan menyapa para fans nya.
Walaupun Anda tahu dan lihat sendiri bagaimana perasaan dan raut muka Rifat ketika mobilnya mendadak mati untuk ke-2 kalinya ketika baru saja dia melakukan start. Orang atau fans tak akan perduli dengan Anda yang sedang marah, kecewa, bete, ataupun sakit. Yang mereka perdulikan adalah sang idolanya tetap tersenyum dan mau berphoto bersama mereka.
There’s no business like showbiz. Disaat Anda sudah masuk dalam bisnis hiburan. Dibawah sorot lampu spot light, dan menjadi public figur atau katakanlah artis, yang Anda bisa lakukan adalah atas nama profesionalitas
Dari satu media ke media lainnya. Pasangan Rifat Sungkar dan MBN Boyke bergantian di interview oleh para media yang meliput event speed off road kali ini. Mempertanyakan mengenai bagaiamana kesan atas sirkuit dan race kali ini, dan mengenai kendala yang dialami dari shakedown hingga SS ke-3.
Untuk masalah kendalan teknis dan problem yang menghantui mereka dari shakedown hingga SS ke-3, Rifat mempersilahkan MBN Boyke untuk menjawabnya
Aaahh…. Boyromance
Setelah melakukan serangkaian interview dengan berbagai media, Rifat dan Boyke pun kembali ke dunia nyata, yaitu mencari tau penyebab mengapa sekring main engine nya putus 2 kali. Ternyata selidik punya selidik, extra fan nomer 3 lah yang menyebabkan hubungan pendek yang berakibat putusnya sekring.
SS ke-3 pun segera dimulai, dan bad habit dari si Marlboro Man pun berlanjut
Tak ada rotan, akarpun jadi. Tak ada Rifat Sungkar, MBN Boyke pun jadi. Tak berhasil poto bersama dengan Rifat Sungkar yang sedang sibuk mempersiapkan mobilnya, MBN Boyke pun akhirnya menjadi sasaran para pengunjung dari kota Tuban ini.
Jika Anda bertanya seperi apa tampang saya ketika sedang liputan, well here i’am. Lengkap dengan gear seperti teroris, tau ada yang bilang seperti tukang minya keliling. But what ever, gear ini membantu saya dari hujan debu di tengah lintasan.
SS 4 pun segera dimulai, dan menjadi SS terakhir dalam pengumpulan catatan waktu bagi Rifat dan juga Boyke.
Suka atau tidak, mereka sudah tertinggal jauh dibelakang dari yang tercepat di kelas mereka FFA2
Di SS ke-4 ini mereka semakin tertinggal jauh dari H. Samsudin yang berpasangan dengan navigator importnya Michael dari Johnlin Racing Team dengan kendaraan Tubular bermesin 2JZ yang suaranya mirip dengan suara mesin The Tiger R35 GT-R H. Dadang. Kalo saya tebak dari suara dan larinya, mesin 2JZ milik pengusaha batubara Jhonlin Group ini diatas 600 hp atau setidaknya 800 Hp.
Lintasan lurus atau straight membuat Rifat/Boyke tertinggal jauh dari H.Sa./Michael. Tapi begitu ada tikungan, dan disaat H. Sam melepas throttle nya, Si Rifat pun memanfaatkannya dengan full throttle. Gap antara mereka pun semakin berkurang.
Masuk di lintasan lurus atau straight yang di isi oleh over jump dan double jump, Rifat pun mati-matian mengejar H. Sam yang berada di depannya.
Dengan bonus debu pekat yang menghalangi jarak pandangnya dengan lintasan di depannya. And it’s legal, sekaligus sebagai salah satu tantangan di event speedoffroad dimana kita harus berkendara dalam keadaan semi buta
H. Sam pun semakin tak terkejar. Kendaraan yang saya julukin King Cobra ini melesat seperti kesetanan dengan iringan suara 2JZ yang khas. Bayangkan saja jika mobil ini berada di lintasan aspal,saya yakin gear nya yang hanya 2 ini pasti mampu melibas dengan mudah sport car manapun.
Back to our hero. Pasangan Rifat/Boyke yang sedang mati-matian mengejar H. Sam/Michael ini pun mengerahkan semua upaya mereka untuk tetap memperkecil gap antara mereka. Semua lintasan di lewatinya dengan full throttle.
Namun sayang, penyakit SS 1 pun kambuh. Yaitu as roda gardan depan patah, dan menimbulkan suara berisik dari bagian depan mobil Pajero Sport ini. Yang uniknya lagi saya melihat bagaimana suspensi seharga 200-300 juta ini berfungsi dengan baik ketika mendarat setelah double jump. Seperti pepatah mengatakan ..harga tidak bisa berbohong.
Dalam keadaan RWD pasangan Rifat/Boyke berhasil finishsecara drifting dengan catatan waktunya 03:42.011. Sementara H. Sam/Michael berhasil finish dengan 03:17.657 yang merupakan record dari sirkuit Tuban ini.
Crew mekanik pun langsung membuka gardan depan seketika mobil ini masuk ke dalam paddock untuk memperbaiki nya. Rifat pun mengawasi perbaikan ini dan menanyakan apakah masih bisa berfungsi sistem 4WD nya
Sementara di depan mobil tampak MBN Boyke duduk sambil sesekali melihat jam tangan digital Ralliart nya sambil berteriak…10 menit lagi…8 menit lagi. Itu adalah batas waktu dimana mereka harus sampai ke pos lapor sebelum start di babak champ of the champ
6 menit sebelum wajib lapor, Rifat pun sudah siap dengan gearnya. Lalu berkata kepada saya, mau lihat mobil off road drifting ga? Saya tanyakan dimana? “Dimana aja yang yang bisa aq driftingin” kata si Rifato. Maklum mekaniknya memvonis bahwa Pajero Sportnya sudah tidak bisa lagi berjalan dengan kaki 4 akibat kerusakan pada gardan depan, jadilah mobil ini menjadi RWD
Benar saja apa yang dikatakan oleh Rifato, begitu setelah melewati staright atau lintasan lurus yang terdapat over jumpt dan double jump, Rifato pun mulai inisiate
Dan mulai bersideways ria
Mungkin kalo ada si Dorikin Keiichi Tsuchiya dan Mana-P, dia akan berteriak stack..stack..stack… lalu Hyakuten! (100%)
Wajar saja Rifato bisa melakukan drifting di mobil apa saja, maklum dia pernah meraih gelar Indonesia Drift King 2008 dan juga juara ke-4 serta ost Competitive Drifter Formula Drift Asia 2010 di Malaysia
Namun sayang akibat hanya mengandalkan 2 roda belakangnya saja berimbas kepada performance dari Pajero Sport ini. Mobilnya tidak sekencenga ketika masih menggunakan 4WD, lompatannya pun terlihat rendah
Akhirnya Rifato/Boyke finish duluan di babak champ of the champ
Meninggalkan pasangan H. Sudirman/Aldian dari Jhonlin Racing team di belakang,yang kali ini menggunakan kendaraan Tubular milik H. Samsudin dari Jhonlin Racing Team
Semua orang pun langsung mengerubungi paddock Pertamina Fastron Offroad Team dan mengajak Rifat Sungkar untuk berphoto bersama. Tak ada lagi wajah berat dari si Rifato karena beberapa kali terkena masalah pada mobilnya.
Yang ada sekarang hanyalah bagaimana menyelesaikan babak champ of the champ melawan H. Sudirman yang berpasangan dengan Aldian, dan pulang membawa sebuah Motor Kawasawi KLX 150
Meskipun hanya berjalan dengan menggunakan 2 buah roda belakang alias RWD dan extrafan nomer 3 dimatikan untuk menghindari arus pendek atau koslet lagi.
Inilah waktunya MBN Boyke untuk melihat kelas dari sang sensei Rifato dalam hal kemampuan atau drivving skillnya menggunakan segala spek mobil, sekaligus belajar dari worst case scanario ini.
2nd run dari babak champ of the champ yang merupakan last run bagi pasangan ini pun dimulai. Rifat pun mulai membuat mobil ini lebih grip pada lintasan daripada 1st run nya yang lebih banyak membuat over streer atau drift untuk menghibur para penonton.
Tak ada lagi aksi sideways dari sang Drift King indonesia ini
Yang ada hanya grip..grip…grip. Rifat membuat mobil Pajero Sport RWD ini terlihat seperti sistem 4WD nya terlihat berjalan normal, padahal tidak. Padahal Anda tahu sendiri untuk urusan off road 4WD adalah rajanya. Sementara RWD, Anda akan dibuat bekerja extra keras untuk mengendalikan pantatnya di lintasan yang condong membuat pantat mobil Anda over steer.
Satu over jump terakhir sebelum garis finish dilewati oleh Rifat/Boyke dengan full throttle sehingga membuat Pajero Sport ini terbang
Dan akhirnya finish dengan tanpa ada masalah. Ya meskipun hanya memakai roda belakang atau RWD.
Hasilnya? Walupun terlempar ke posisi ke-5 overall di kelas FFA2 dan ke-17 di group FFA. Pasangan Rifat Sungkar dan MBN Boyke Indrajaya ini berhasil memenangkan sebuah motor Kawasaki KLX 150 sebagai hadiah champ of the champ. What a race.. and full of drama. Well itulah asyiknya Motorsport, Anda tak akan tahu apa yang akan menimpa Anda setelah lampu hijau menyala. Keep flat out ! And satu lagi ..pembalap juga manusia.
-Bayu Sulistyo |nyonk|
*Like us on Perfourm Facebook Fanpage
*Follow us on our Twitter and Instagram: @perfourm
*Hashtags your photo with #PERFOURMMACHINEHEAD, and you can be on Perfourm.com
There’s no business like showbiz. Disaat Anda sudah masuk dalam bisnis hiburan. Dibawah sorot lampu spot light, dan menjadi public figur atau katakanlah artis, yang Anda bisa lakukan adalah atas nama profesionalitas






























































