Aaahhh..tahun baru. Kumpul bersama keluarga sambil bbq parteh? Sudah biasa. Potong knalpot motor atau mobil lalu menikmati kemacetan yag padat merayap dengan sambil di gas-gas atau mblayer-mblayer?sudah biasa. Atau mungkin one night stand dengan parteh?sudah biasa juga. Tapi kami para car enthusiast di kota Surabaya punya cara yang berbeda untuk menikmati malam tahun pergantian tahun ini, yaitu old and new drag race.
Sudah mulai terhitung dari tahun 1999 saya melihat dan ada di lintasan ini untuk melihat dan memphoto drag race di malam tahun baru ini. Untuk Kenjeran Park sendiri, saya sudah mengenal lintasan ini dari tahun 1996. Dari kenjeran beralih ke kalijudan, lalu Juanda, dan akhirnya kembali lagi ke Kenjeran. Itulah perjalanan lintasan drag race di kota Surabaya dari tahun ke tahun.
Sudah lama saya tidak meliput drag race di Surabaya yang selalu malam hari. Jadi agak sedikit extra sabar saya mengembalikan Canon 550D _ lens kit 18-55mm saya ke habitat aslinya. Saya pun bertemu dengan beberapa pembalap nasional seperti Om Hery Agung dari kota Semarang yang saat ini lebih focus menjadi pengusaha towing atau kembali lagi jadi dokter daripada menjadi the flying doctor karena masalah penyakit jantungnya yang sudah tidak bisa diajak sport jantung lagi.
Dari pembalap serba bisa dan dari jaman bahula, kita beralih ke mobil yang juga bisa dibilang urban legend nya drag di kota Surabaya, bahkan somesay di Indonesia. Behold of the Mpu Gandring Saktindo Jepang Motor EG6 Sidoarjo. EG6 ini kalo tidak salah sudah mulai malang melintang di dunia persilatan drag race Indonesia dari tahun akhir 90’an. Mulai dari pulau Jawa hingga kota Medan mobil ini berkeliling mengikuti kejurnas dengan cara di towing dengan sebuah Taft Diesel.
Jika pada dahulu kala sang Mpu Gandring Saktindo ini fans berat dan maniak D-siris atau D-Series, maka pada tahun 2015 ini si Mbah sudah ganti kerisnya dengan mesin B Series, yaitu B20. Sepertinya kubu Jepang Motor sudah lelah bermain D-Series dari jaman 90’an.
Ngomong-ngomong soal that 90’s show, saya akan membawa Anda nostalgia ke jaman saya SMP dan SMA dimana all motor box car racer merajarela dengan suburnya, seperti Toyota Kijang, Daihatsu Feroza, dan tentu saja Suzuki Katana. Namun hanya ada satu Katana yang menurut saya urban legend nya drag di Jawa Timur dan juga idola saya.
Behold of the Gundala Putra Petir MBR Suzuki Katana Malang. Ini adalalah urban legend paling ganas dan greget di jamannya. Bermodal mesin F10 4 cylinder dengan cc yang setengah dari mobil Civic Anda, alias 970 cc. Lebih mirip mesin mobil angkot Suzuki Carry ketimbang sebuah mesin balap. Tapi di jaman ke emasannya hanya katanan ini yang mampu mengasapi dan menjuarai kelas jeep modified yang berisi Feroza-Feroza dari Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan finish dengan catatan waktunya 10.6 detik oleh sang ownernya , Jack. Semasa saya masih drag liar dengan Suzuki Carry saya, hanya mobil ini lah yang pengen saya sanding di lintasan 201 meter. Namun sayangnya kita tak pernah berjodoh..
Setelah hibernate hampir sekitar 10 tahun, Jack pun kembali dari tidur panjangnya dengan membawa kembali Suzuki Katana ini dengan mesin yang mirip seperti V8 pada sebuah sedan drag race atau drifting. Hingga membuat mesin tersebut menjulang cukup tinggi dari hood nya
Awalnya saya mengira ini adalah mesin Suzuki G13B 1.300cc DOHC copotan dari Suzuki Cultus atau Mitsubishi 4G63 milik dari Lancer Evo, namun feeling saya mengatakan ini adalah mesin 4G93 yang di comot dari Lancer GTi lokal lalu dijejali dengan 4 barrel Webber dan akhirnya dibuat sebagai penggerak belakang atau RWD. Saya tidak tahu berapa HP atau catatan waktunya kemaren, karena katanya mobil ini trouble akibat kebesaran power. Jack benar-benar jack ass…
Jika di Jakarta atau west cost sedang mewabah main B-Series, maka di kota Surabaya atau East Cost beberapa mobil tampak engine bay nya dijejali oleh mesin H series dari Honda Prelude. Ini adalah H22 dari WW Autotechnic yang mampu menyemburkan tenaga sebesar 238 whp.
Yaitu mesin H22. Keuntungannya dibandingkan B20 adalah torsi yang dimilikinya lebih besar daripada B20 non-vtec atau Frankenstein head B16 v-tec dengan short block B20, bahkan sampai lebih unggul daripada K20R. Jadi ketika start mobil langsung lompat atau akselerasinya lebih cepat, ya meskipun dari segi bobot beratan H22. Termasuk juga mesin 180 whp F20B biru ini
Ngomong-ngomong soal torsi, ada juga pembalap atau dragster wanita Surabaya yang torsinya juga tinggi alias sudah nyolong start atau jump start dari saya yang notabene umurnya lebih tua dari dia. Sepertinya baru kemaren saya mengenal wanita yang mulai drag race pada saat dia masih duduk di bangku SMA (2005), dan sekarang terlihat aneh dia menggendong seorang baby yang ayahnya juga seorang dragster dari kota Malang Uji Gladiator Inspired EG6.
Race pada tahun baru ini juga di hadiri oleh teman-teman dari Supernova Jakarta yang kali ini featuring team Jack Daniels Semarang dengan mobilnya yang bernama Hulk’D. Bisa dibilang ini adalah tour mereka setelah seri terakhir Sentul pada November yang lalu dimana mereka mencetak new all motor record untuk D-Series engine yaitu 12.865 detik di Sentul Circuit (402 meter)
Race pun dimulai sekitar jam 7 lebih, dengan cuaca yang sudah lazim di bulan Desember yaitu hujan. Namun seiring berjalannya race hujan pun mulai reda dan lintasan kembali kering. Uniknya di Surabaya adalah Anda akan diberi waktu sekitar 3 jam untuk menyelesaikan heat 1, tidak perduli Anda kelas apa. Selama Anda sudah siap, silahkan maju ke garis start. Alasannya biar cepat selesai, karena you knowlah para dragster di Surabaya tidak se disiplin di Sentul. Oleh karena itu panitia membuat program paket kejar tayang ini supaya sebelum subuh sudah selesai semua. Jaman dulu? Penerimaan piala bisa dilakukan jam 7 pagi bahkan dulu pernah jam 1 siang.
Beberapa mobil juga terlihat di datangkan langsung dari Jakarta, seperti EG6 dari team Hot Wheels Manado yang bernama James Bond
Mesinnya juga terlihat menggunakan D series yang ditangani langsung oleh crew mekanik dari Wisesa Motorsport Jakarta.
Namun sayangnya, EG6 berlivery Mugen Power ini performancenya tidak semulus yang diharapkan, terjadi problem pada engine nya hingga hanya membuat M. Wasrik menempati posisi ke-2 di kelas sedan 1 s/d 1.700 cc modified dengan wwaktu 8.753 detik. Dan juga juara ke-2 di kelas sedan 4 cylinder 1 s/d 2.500 cc modified dengan waktunya 8.912 detik.
Nasib kurang beruntung menimpa Daus dari team SCS Autosport, performance dari EG6 nya pada malam hari itu belum cukup untuk mampu bersaing dengan EG6 bermesin D-series lainnya
Sementara itu pemegang all motor record Indonesia untuk D-series ini hanya mampu bertengger di posisi ke 3 dan 4 di kelas sedan 1 s/d 1700 cc modified, sebelum akhirnya metal atau bearingnya rusak. Juara 3 diraih oleh Bagoes Riezky dengan waktu 8.777 detik, sementara juara ke-4 diraih oleh Aditya Sanny dengan waktu 8.895 detik.
Dan untuk D-series malam itu dipegang oleh Coto Makassar Maju Makmur Semarang EG6 dengan best timenya yaitu 8.690 detik yang dicetak oleh Adi TJ sehingga berhasil mengantarkannya ke posisi juara 1 di kelas sedan 1 s/d 1700 cc modified. Sementara rekan satu teamnya Caul MDC hanya berhasil duduk di posisi ke-4 dikelas sedan 1 s/d 2.000 cc (non engine series) dengan waktu 8.810 detik.
Di kelas bracket 9 detik keluar sebagai juara 1 ada Martin dari team Garden Speed Jakarta yang menumpang mobil EG6 dari team GAR Power Yoedha Tuning Surabaya dengan waktu 9.138 detik. Sementara pemilik mobilnya, Khrezna GAR Power berada dibawahnya atau posisi ke-2 dengan waktu 9.153 detik. Di kelas FFA non turbo Khrezna hanya mampu duduk dipodium ke 5 dengan waktunya 8.936 detik.
Beberapa mobil baru pun tampak pada saat itu, seperti EG6 merah milik Septiano dari Tomcat Racing Surabaya (memakai race suit) yang dilengkapi dengan B20 and ton’s of performance part inside.
Selain Septiano, ternyata tandem nya hari itu adalah Wira yang dulunya bermain drag lalu drift dan akhirnya kembali ke jalan yang lurus lagi
Hasilnya? Wira dari Tomcat Racing ini pun berhasil meraih juara ke-2 di kelas FFA non turbo dengan waktu 8.583 detik. Sementara Septiano berada di posisi ke-3 dengan waktunya 8.679 detik. Sementara di kelas sedan 4 cylinder 1 s/d 2.500 cc modified Septiano berhasil keluar sebagai juara 1 dan Wira di posisi ke-3.
The Old man is back..Deddy Jepang kini kembali lagi ke dalam cockpit Mpu Gandring EG6 yang kini sudah dipersenjatai dengan mesin B20, bukan lagi D-series dimasa kejayaannya
Sayangnya Mpu Gandring belum kembali sakti dengan mesin B20 barunya. Deddy Jepang Motor hanya mampu duduk di podium ke-4 di kelas bracket 9 detik dengan catatan waktunya 9.239 detik. Sementara rekannya Booki berhasil menyabet podium ke-4 juga di kelas FFA non turbo dengan waktu 8.723 detik.
Di kelas sedan 1s/d 2.000 cc (non engine series) ada WW yang merupakan tuner dari WW Autotecnic Surabaya yang berhasil meraih podium ke-2 dengan Honda Ferio atau EK bermesin H22 nya, dengan waktu tempuhnya 8.696 detik
Masuk ke kelas paling atas dari all motor, yaitu kelas FFA non Turbo ada Red Devil B16 AP Speed EG6 Malang
Ustad atau Fatahillah owner dari Red Devil ini berhasil keluar sebagai juara 1 di kelas sedan 1 s/d 2.000 cc (non engine series) dengan waktunya 8.544 detik, disusul oleh Komenk di posisi ke-3 dengan waktu 8.721 detik
Sementara fastest of the day untuk all motor diraih oleh Amec dengan Red Devil yang mencetak waktu 8.295 detik yang membuatnya bertengger di podium 1 di kelas FFA Non Turbo
Tak lengkap rasanya drag race tanpa kehadiran mobil yang satu ini, yaitu VW Beetle atau kodok
Sayangnya mesin oil cooled mereka yang old school itu belum mampu memberikan perlawan kepada water cooled atau mobil modern saat ini, walaupun cc dan modifnya lebih banyakan si kodok ini.
Tetapi dengan segala hormat, saya tetap menghormati bagi para owner vw kodok yang membawa mobil old school mereka ke medan perang dan bertarung like a man menghadapi mobil-mobil high injeksi with a smart ecu. But don’t forget guys, VW Kodok dan sebangsanya adalaha penguasa drag race Indonesia pada era 90’an
Old but gold. Umur bisa terbilang tua namun semangat tetap full throttle…it’s ever green power. Salah satu dari pembalap atau pejuang VW selain Om Gobret yang sudah pension adalah Om Juwono dari The Real Speed Surabaya.
Dokter yang satu ini mulai balapan dengan VW 1500 nya semenjak tahun 90’an. Namun sayangnya karena parts VW yang bisa dibilang lebih mahal daripada produk aftermarket Honda, pasukan VW kodok pun mulai tiarap semenjak imbas krisis moneter 1998. Yang secara tidak langsung meng cut off atau meng limit kan performance dari pada pasukan oil cooled ini. Om Juwono pun harus pulang dengan tangan hampa pada malam hari itu.
Masuk di kelas we got boost atau FFA Turbo, pesertanya semakin lama semakin banyak saja. Maklumlah biasanya di Surabaya biasanya pesertanya bisa dihitung dengan jumlah tangan sebelah. Darikubu Polomas dengan Epo III ada Alfret sang tuner yang berhasil duduk dipodium ke-2 dengan waktu 8.184 detik. Dan Randa di posisi ke-3 dengan waktu 8.481 detik
Dan juara 1 di kelas FFA turbo diraih oleh Prasetyo dari 57 Crew dengan waktunya 7.984 detik
Sementara H. Jemblunk dari AP Speed Malang harus puas di posisi ke-4 dengan waktunya 8.666 detik.
Jika di Jakarta Rian Risky adalah salah satu pembalap atau pejuang all motor bersam Tomahawk B16 AP Speed EG6 di kelas bracket 13 dan 12 detik, maka di kota asalnya ini dia berubah menjadi pejuang FFA Turbo dengan Mitsubishi Lancer Evo IX MR nya.
Pembalap dari team MYB WW Auto Surabaya ini hanya berhasil duduk diposisi ke-5 di kelas FFA Turbo dengan waktunya 8.805 detik, Padahal power dari MR ini pernah menyentuh garis finish dengan waktu 7.7 dan 8.0 detik.
Sekitar jam 3 pagi race pun selesai. Tapi sebelumnya tepat jam 12 malam, seperti biasa ada pesta kembang api di ujung lintasan dan tepi lintasan menandakan perayaan malam pergantian tahun baru 2014 ke 2015. Dan saya sudah selama 16 tahun melihat kembang api di lintasan.
-Bayu Sulistyo |nyonk|
*Like us on Perfourm Facebook Fanpage
*Follow us on our Twitter and Instagram: @perfourm
*Hashtags your photo with #PERFOURMMACHINEHEAD, and you can be on Perfourm.com

















































