Surabaya kota terbesar ke-2 di Indonesia ini mempunyai berbagai macam julukan, mulai dari kota pahlawan, kota bisnis, kota paling panas, kota bebek goreng, kota Bonek atau Bajul Ijo, dan kota bahasanya penuh dengan Explicit Lyrics. Namun di tahun 2015 ini sepertinya kota Surabaya akan mendapatkan julukan baru, yaitu kota full of motorsport. Mulai dari Drag race, drifting, off road, hingga rally pun ada di kota yang terletak di provinsi Jawa Timur ini. Khusus untuk Rally atau Sprint Rally, akhirnya para perally yang sudah lama gantung stir kini punya spot atau track baru di kawasan Bhumi Marinir Karangpilang. Dan inilah 1st debut saya datang ke sirkuit yang terletak di dalam area basecamp kesatuan Marinir Angkatan Laut ini.
Sirkuit Bhumi Marinir ini terdiri dari 7 km pada tiap SS (Special Stage) yang didalam race Kejurda seri 2 (13-14 Juni 2015) terdapat 4 SS yang dipertandingkan.
Inilah 1st debut saya datang ke track sprint rally Karang Pilang setelah 2 event Adhy yang diajak liputan oleh team MBN Rally Team. Namun saya kali ini tidak dalam tugas kenegaraan atau liputan, hanya sekedar datang untuk dokumentasi pribadi salah satu perally yang di support oleh sponsor utama Perfourm, yaitu Perfections Window Film.
Bisa dibilang track ini mirip seperti rally di Afrika yang lintasannya tanah dengan gravel/bebatuan namun dengan pasir dan debu yang cukup dalam alias gersang, namun di pinggirnya banyak pepohonan yang rindang.
Pada race kali itu saya menemani perally dari kota Jakarta, yaitu Yoyok Cempe dari team Jakarta Homes Rally Team yang berpasangan dengan navigatornya yang berasal dari kota Sidoarjo, Audi. Yoyok dan Audi akan bertarung di kejurda seri 1 ini dengan sebuah Suzuki Baleno 1.6 Lt. Dan pada event kali itu Yoyok di sponsori oleh Perfections Window Film.
Selain Yoyok, saya juga melihat banyak pembalap senior yang hadir disini, seperti Dokter Herry Agung hingga pembalap muda yang sedang naik daun bertanding di ajang rally internasional, WRC (World Rally Championship) Subhan Aksa dari team FBRT atau Firna Bosowa Rally Team yang bertarung dengan sebuah Mitsubishi Mirage.
Karena saya tidak sedang bertugas, saya pun hanya ngendon atau ngetime di teras sebuah bangunan tepi track. Tidak seperti biasanya yang selalu flat out bergerilya mencari angle dan berburu moment bagus.
Seperti kata Niki Lauda dalam film Rush, “There’s no need to drive fast, it just increases the percentage of risk. We’re not in a hurry, I’m not being paid. Right now, with zero incentive or reward, why would I drive fast? ”
So, jadilah saya duduk manis di teras dengan memegang 550D dengan lens kit 55-250, dan memulai memphoto mobil yang lewat tanpa harus berpikir kepanasan dan kena debu. Alias mager atau malas gerak kata anak gaul jaman sekarang.
Tapi ketika pasangan Yoyok Cempe/Audi mulai tampak dari kejauhan dengan Suzuki Balenonya, saya pun mulai lari tunggang langgang menuju ke tepi lintasan. Pasangan Yoyok Cempe/Audi pun berhasil menyabet podium 1 dikelas 2WD 1.6
Dan akhirnya setelah pasangan Yoyok dan Audi lewat saya pun terdiam di tepi lintasan dan mulai kumat atau gatal untuk mengambil photo mobil yang lewat.
Awalnya cuma bilang dalam hati “1 atau 2 kali jepret aja” namun begitu di lihat hasilnya kok bagus, saya pun mulai ketagihan membrondong mobil-mobil yang lewat.
Saya tergiur akan ambience sirkuit Karang Pilang yang sangat mendukung untuk mengambil gambar rally yang bagus. Anda cukup mengatur setingan kamera Anda dengan tepat, yang pasti saya lebih memilih mem freeze photo daripada panning untuk mendapatkan gambar yang greget. Jika setingan kamera Anda tepat, well Anda akan mendapatkan photo seperti diatas.
Track nya yang lebih condong didominasi oleh gravel atau bebatuan dengan lapisan pasir diatasnya, membuat special efect debu yang cukup tebal dengan background pepohonan yang rindang, dan sinar matahari yang cukup terik membuat gambar yang dihasilkan jauh lebih bagus atau berseni daripada gambar balap di tarmac atau aspal.
Karena element atau soul dari rally itu sendiri terletak pada debu yang dihasilkan ketika mobil rally menerjang lintasan dengan kecepatan tinggi sehingga membuat seperti ada badai debu layaknya di padang pasir.
Sama seperti drifting, unsur oversteer atau ngesot dengan efek pasir dan bebatuan yang berterbangan juga menjadi nyawa atau soul dalam setiap photo rally. Bisa dibilang 2 unsur ini wajib hukumnya ada dalam setiap photo rally.
Tapi ada harga yang harus dibayar dari fun nya track Karang Pilang ini. Beberapa mobil pun terlibat insiden kecelakaan ataupun pulang dengan titel D.N.F atau Did Not Finish. Jika pun sampai finish, mereka membawa cinderera mata berupa Enkei Sport ES Gravel mereka yang sudah peyang atau bengkok.
Dan tentu saja memphoto rally sendiri bisa menjadi hal yang menyenangkan karena gambar yang dihasilkan bisa lebih nge art namun juga bisa menjadi momok bagi seorang photographer. Mengapa? Karena bisa membuat kamera Anda rusak akibat debu yang dimana merupakan musuh utama benda hitam yang saya pegang ini. Dalam dunia photo memphoto rally, kita tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menghasilkan atau teknik photo yang bagus lagi, tapi sudah masuk dalam acara bertahan hidup dengan bergerilya ditengah sirkuit yang penuh dengan debu, panas, serta dehidrasi. Jadi intinya bagaimana pulang dengan badan tetap sehat atau tidak ambruk setelah dari situ, dan tetap sehat ketika melihat hasil photo yang bagus di rumah Anda. Jadi jika Rally dimasukan dalam urutan versi on the spot, maka rally masuk dalam urutan yang ke-2 dalam hal pekerjaan yang paling berat bagi seorang photographer. Dimana peringkat nomer 1 nya adalah speedoffroad.
-Bayu Sulistyo
*Like us on Perfourm Facebook Fanpage
*Follow us on our Twitter and Instagram: @perfourm
*Hashtags your photo with #PERFOURMMACHINEHEAD, and you can be on Perfourm.com
*Hastags your car project with #BUILDTORACE and #BUILDTOPERFOURM, and you can be on Perfourm.com











