Setelah satu pekan sebelumnya saya berada di Daerah Istimewa Yogyakarta menghabiskan weekend untuk liputan event kejuaraan drifting bersama HGMP Racing Team yang ada pada artikel saya sebelumnya, kini giliran saya untuk kembali ke jalan yang lurus yaitu lintasan drag race 402m Sentul International Circuit untuk meliput salah satu tim memiliki nama besar pada dunia motorsport drag race, tim yang sudah 3 tahun berturut-turut menggandeng Perfourm.com sebagai media partner, tim yang hampir tidak pernah absen untuk berkompetisi pada kelas FFA Sentul Drag Race setiap serinya, BFR Indonesia.
Jika pada tahun 2014 dan 2015 BFR Indonesia masih menggunakan Mitsubishi Lancer Evolution V milik Welliem, Evolution VI milik Adrian Paruntu dan Evolution IX milik Willy Wijaya sebagai senjata andalan pada kelas FFA Sentul Drag Race, maka pada Sentul Drag Race tahun 2016 ini BFR Indonesia sudah mengistirahatkan ketiga mobil tersebut dan telah mempersiapkan senjata baru khusus untuk bertarung pada kelas FFA Sentul Drag Race 2016.
Senjata andalan BFR Indonesia untuk drag race tahun 2016 ini masih menggunakan platform yang sama yaitu Mitsubishi Lancer Evolution, namun mobil yang dinamai EVODRAG ini dipersiapkan untuk full competition car, 402m use only, lebih ekstrim dari mobil-mobil yang digunakan untuk berkompetisi pada kelas FFA sebelumnya yang masih compatible bila digunakan untuk morning dan midnight run. Bagian eksteriornya mulai dari bumper depan belakang, keempat pintu, fender, engine hood hingga wide body kit sudah menggunakan fiber yang bertujuan agar mengurangi bobot mobil itu sendiri.
Interior EVODRAG juga sudah mengalami diet besar-besaran khusus dipersiapkan untuk berkompetisi pada kelas FFA Sentul Drag Race 2016. Original part seperti dashboard dan door trim sudah digantikan oleh custom fiber yang dibuat sendiri oleh BFR Indonesia.
Pada sektor mesin EVODRAG menggunakan 4G63T dengan stroker 2.2L dan menggunakan turbo Owen Development GT3588, salah satu produk andalan dari Owen Development dan juga ECU Microtech yang juga dipasarkan oleh Boost Factory Indonesia. Sedangkan gearbox yang digunakan pada EVODRAG masih menggunakan gearbox original Mitsubishi Lancer Evolution IX CT9A namun seluruh gear yang ada didalamnya sudah digantikan dengan Holinger Engineering.
Let’s forget about Advan Neova AD08R, Toyo R888 and Achilles ATR-K. Demi menembus angka 9 detik, sang master chef yang juga merupakan owner dari Boost Factory Indonesia, Willianto Hardi menggunakan M&H Racemaster yang membalut Belak Industries Drag Racing Wheels pada EVODRAG.
Dan tidak lupa untuk alasan safety, EVODRAG juga menggunakan Simpson Racing Parachute untuk menghentikan laju setelah melewati garis finish.
Selain EVODRAG, untuk Sentul Drag Race seri 5 yang diadakan pada akhir November lalu BFR Indonesia juga mempersiapkan Mitsubishi Lancer Evolution III milik salah satu customer yang nantinya juga akan dipakai untuk berkompetisi pada kelas FFA. Dan yang mengatur persiapan mobil-mobil balap BFR Indonesia yaitu Tom dan Donald, tuner andalan BFR Indonesia yang diimpor langsung dari negeri tetangga.
Sejak setibanya saya disana, beberapa mekanik BFR Indonesia masih sibuk mempersiapkan 6 mobil yang akan turun pada Sentul Drag Race 2016 seri 5 yang merupakan seri penutup pada tahun ini. BFR Indonesia memang merupakan salah satu tim yang memiliki pit paling ramai pada hampir setiap seri Sentul Drag Race dengan lebih dari 3 mobil yang berkompetisi mulai dari kelas 13 detik hingga Free For All.
Livery BFR Indonesia pun berganti-ganti hampir setiap seri, dan ini adalah kali ketiga BFR Indonesia tampil dengan livery barunya dengan warna dasar merah dan putih yang melambangkan negara Indonesia. Namun sayangnya karena keterbatasan waktu yang dimiliki, hanya 2 mobil saja yang menggunakan livery baru ini untuk Sentul Drag Race 2015 seri 5.
DAY 1 – QTT DAY
Seperti pada seri-seri sebelumnya, agenda hari pertama pada setiap seri Sentul Drag Race yaitu QTT Day. Keenam mobil BFR Indonesia yang baru saja selesai mengikuti scrutineering satu persatu mulai bergerak kembali ke pit untuk melakukan persiapan sebelum QTT run dimulai.
Satu persatu mobil yang akan QTT run wajib dilakukan pengecekan ulang secara teliti oleh mekanik tim mulai dari bagian mesin hingga bagian kaki-kaki.
Suasana hari pertama pada seri terakhir Sentul Drag Race 2016 ini bisa dibilang low boost alias kurang ramai, euforia yang saya rasakan sangatlah berbeda dengan pertama kalinya saya datang ke Sentul Drag Race 2 tahun yang lalu, saat itu seluruh pit penuh dan sejak pagi sudah terdengar suara mesin dari setiap pit sebelum melakukan QTT run.
Monster FFA yang haus akan angka 9 detik bernama EVODRAG ini nantinya akan berkompetisi pada kelas Free For All ini hanya dipiloti oleh satu pembalap yang juga merupakan the big boss dari Boost Factory Indonesia yaitu Willianto Hardi.
Mitsubishi Lancer Evolution III BFR Indonesia juga berkompetisi pada kelas Free For All seri terakhir Sentul Drag Race 2016, dipiloti oleh Ricky Rizki.
Willy Wijaya, masih dengan Mitsubishi Lancer Evolution IX dan mesin 4G63T yang sama seperti pada seri-seri sebelumnya, berkompetisi pada kelas Free For All dengan kondisi interior dan exterior full stock tanpa melakukan weight reduction sama sekali alias daily spec.
Lancer Evo squad BFR Indonesia tidak hanya di kelas Free For All, melainkan juga berkompetisi pada Kelas bracket 12 detik dan 13 detik. Adrian Paruntu, dengan Mitsubishi Lancer Evolution VI yang sudah kembali menggunakan stock engine 4G63T setelah pada tahun lalu dirinya merasakan kelas Free For All dengan mobil yang sama dan menghasilkan waktu 10.454 detik.
Selain Mitsubishi Lancer Evolution, Oka Doni yang belum lama bergabung dengan keluarga BFR Indonesia juga memutuskan untuk ikut berkompetisi pada kelas bracket 13 detik dan 12 detik seri terakhir Sentul Drag Race 2016 menggunakan Subaru Impreza WRX STi miliknya.
Pada seri terakhir Sentul Drag Race 2016 BFR Indonesia dengan Chun Wheels Batam juga turut berkompetisi pada kelas bracket 12 detik dan bracket 13 detik dengan All Motor EG6 B20 Captain America yang dipiloti oleh Mike Tan dan Juki Ng asal Batam. Sejak awal berdiri 2 tahun lalu dengan nama Boost Factory Indonesia, setiap orang mengira bahwa Boost Factory Indonesia hanya mengkhususkan pengerjaan mobil forced induction alias turbo. Para customer yang datang dan berkonsultasi dengan Willianto Hardi pun sebagian besar berdiskusi mengenai mesin turbo pada mobilnya. Dan tahun 2017 nanti menjadi pintu pembuka bagi Boost Factory Indonesia untuk melangkahkan kaki lebih jauh dengan mengikutsertakan beberapa mobil naturally aspirated dalam tim BFR Indonesia yang nantinya akan meramaikan dunia All Motor Indonesia di Sentul Drag Race 2017.
Sementara itu tuner BFR Indonesia Tom Koh, sedang melakukan fine tuning pada EVODRAG sebelum dirinya memutuskan bahwa mobil tersebut siap untuk QTT run.
Bersama satu mekanik dari BFR Indonesia Tom membawa EVODRAG ke bagian belakang pit untuk melakukan test run dan melakukan pengecekan ulang agar seluruh komponen berjalan dengan lancar.
Loving the red and white livery…
Setelah semuanya dirasa aman, Tom pun membawa EVODRAG kembali menuju pit dan memutuskan untuk mengganti air radiator menggunakan dry ice untuk menjaga temperatur agar tetap dingin.
Kemudian Willianto Hardi, team owner sekaligus pilot dari latest project BFR Indonesia EVODRAG segera bersiap-siap dengan Alpinestar race suit nya dan masuk kedalam cockpit untuk bergerak menuju waiting zone dan melakukan QTT run.
Sang pilot mengatakan bahwa dirinya sedikit merasakan demam panggung sebelum berangkat menuju waiting zone, wajar saja karena sudah lebih dari 6 tahun tidak terjun ke dunia balap. Dirinya pun mau tidak mau harus menyesuaikan kembali dengan karakter mobil yang bertenaga sekitar 800 horsepower ini agar menghasilkan catatan waktu terbaiknya pada angka 9 detik.
Tidak lama kemudian Willianto Hardi bergerak menuju waiting zone untuk kemudian melakukan first QTT run dengan EVODRAG.
Setelah sampai pada waiting zone, Willianto Hardi pun langsung bersiap-siap dan memasangkan Alpinestar balaclava dan juga Arai Helmets nya.
First QTT run Willianto Hardi mengatakan bahwa ada permasalahan pada gearbox EVODRAG yang dirasa keras pada saat shifting gear 2 ke gear 3 sehingga ketika miss gear pada 100 meter setelah start dirinya pun tidak memaksakan EVODRAG untuk mengejar waktu melainkan hanya berjalan santai menuju garis finish. Pada second QTT run hal yang sama terulang kembali, miss gear 2 ke 3 menyebabkan Willianto Hardi belum bisa membuktikan berapa best time yang didapatkan monster FFA milik BFR Indonesia ini.
Setelah kembali ke pit, tuner BFR Indonesia Tom dan Donald langsung bertanya tentang apa yang baru saja terjadi di track, sebelum memutuskan untuk mencari tahu apakah kemungkinan miss gear tersebut bisa diantisipasi.
Sementara itu Ricky Rizki sedang bersiap-siap untuk bergerak menuju waiting zone dan melakukan QTT run dengan Mitsubishi Lancer Evolution III nya.
Namun sesaat setelah meninggalkan starting line, ada insiden kecil yang menimpa Ricky Rizki. Mitsubishi Lancer Evolution III yang dikendarainya sama sekali tidak mendapatkan traksi, keempat ban Toyo R888 selalu overspin bahkan hingga lebih dari 200 meter dari starting line. Ricky pun terlihat shock setelah mobilnya oversteer dan berpindah lajur hingga menghadap arah yang berlawanan.
Bahkan pada QTT run selanjutnya pun mobilnya masih terlihat overspin ketika shifting gear 2 ke gear 3. Padahal tuner BFR Indonesia sudah menurunkan boost dari 1.8 bar menjadi 1.4 bar. New tires needed….
Sayangnya, Ricky Rizki harus berurusan dengan permasalahan serius yang terjadi pada mobilnya ketika dirinya akan melanjutkan QTT run hari itu. Pada saat Ricky akan menyalakan mesin tiba-tiba terjadi ledakan kecil dan muncul asap dari mesin 4G63T miliknya. Dan seketika para mekanik BFR Indonesia yang berada di pit pun lari menuju mobil Ricky untuk melihat apa yang terjadi, setelah di cek ternyata salah satu piston pada mesin 4G63T tersebut pecah disebabkan oleh oil pressure yang sangat tinggi.
Pada QTT run, Juki Ng pembalap BFR Indonesia Chun Wheels asal Batam yang berkompetisi pada kelas bracket 13 detik dan bracket 12 detik menggunakan EG6 All Motor Captain America dengan mesin B20 V-Tec non stroker berhasil meraih catatan waktu yang sangat mengesankan. Catatan waktu yang dihasilkan Juki Ng yaitu 11.806 detik yang mana merupakan holy land dari All Motor Indonesia. Namun sayangnya mobil tersebut tidak dapat melanjutkan hingga race day dikarenakan blown engine setelah beberapa kali melakukan QTT run.
Sementara itu Willy Wijaya tidak dapat melakukan QTT run dan harus kembali ke pit setelah dirinya berulang kali melakukan test run dibagian belakang pit hingga menyebabkan Mitsubishi Lancer Evolution IX miliknya tidak mau berjalan ketika pedal kopling dilepas pada gear 1, mekanik BFR Indonesia memperkirakan bahwa permasalahan ada pada kopling mobil Willy Wijaya yang hangus.
Tak lama kemudian seluruh mekanik BFR Indonesia yang berada di pit pun langsung mengambil jack stand dan memasangkan pada Mitsubishi Lancer Evolution IX milik Willy Wijaya sebelum melakukan operasi bongkar kopling dan gearbox agar dirinya dapat melanjutkan hingga race day.
Dan yang harus berkorban hari itu adalah EVODRAG milik Willianto Hardi. Dirinya memutuskan untuk membongkar gearbox dan mengambil kopling yang terpasang pada EVODRAG dan memasangkan pada Mitsubishi Lancer Evolution IX milik Willy Wijaya dengan alasan “customer first”. Sebagai owner BFR Indonesia Willianto Hardi merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap hal-hal yang terjadi dengan mobil balap milik customernya dan dirinya harus berusaha semaksimal mungkin agar customer yang juga rekan satu tim nya dapat melanjutkan hingga event tersebut selesai.
Langkah EVODRAG untuk menembus angka 9 detik saat race day esok harinya pun harus terhenti…
Hingga tengah malam mekanik BFR Indonesia masih berkutat dengan puzzle bongkar pasang gearbox dan juga kopling dari EVODRAG dan Mitsubishi Lancer Evolution IX milik Willy Wijaya yang harus kejar tayang agar paginya dapat bertanding pada kelas Free For All pada seri terakhir Sentul Drag Race 2016. All in.
DAY 2 – RACE DAY
Pasukan BFR Indonesia yang tersisa hingga race day Sentul Drag Race 2016 seri 5 yaitu Adrian Paruntu dengan Mitsubishi Lancer Evolution VI yang bertanding pada kelas bracket 13 detik dan bracket 12 detik.
Kemudian Oka Doni dengan Subaru Impreza WRX STi yang bertanding pada kelas bracket 13 detik dan bracket 12 detik pula.
Sedangkan proses bongkar gearbox dan kopling Mitsubishi Lancer Evolution IX milik Willy Wijaya baru selesai beberapa jam sebelum matahari terbit. Dan setelah terpasang dengan rapi seperti semula, mekanik BFR Indonesia pun melakukan pengecekan terhadap gearbox mobil tersebut dan ternyata Mitsubishi Lancer Evolution IX milik Willy Wijaya masih saja mengalami permasalahan yang sama yaitu tidak ada respon ketika shifting pada gear 1. Terpaksa Willy Wijaya harus mundur dan batal mengikuti heat 1 Sentul Drag Race 2016 seri 5.
Dua pasukan BFR Indonesia yang tersisa pun segera meninggalkan pit dan bergerak menuju waiting zone untuk menyelesaikan heat pertama.
Salah satu pasukan BFR Indonesia yang bertahan hingga race day yaitu Oka Doni dengan Subaru Impreza WRX STi yang bertanding pada kelas bracket 13 detik dan bracket 12 detik.
Pada heat pertama kelas bracket 13 detik catatan waktu Oka Doni yaitu 17.481 detik dikarenakan terjadi kesalahan ketika start sehingga menyebabkan dirinya break out dan tidak berhak mengikuti heat kedua.
Sedangkan pada heat pertama kelas bracket 12 detik catatan waktu Oka Doni yaitu 13.843 detik dan bertengger pada posisi 22.
Sementara itu di antrian selanjutnya ada Adrian Paruntu dengan Mitsubishi Lancer Evolution VI dengan stock engine yang berkompetisi pada kelas bracket 13 detik dan bracket 12 detik.
Pada kelas bracket 13 detik Adrian Paruntu dengan Mitsubishi Lancer Evolution VI stock engine miliknya mencetak catatan waktu 13.569 detik dan menempati posisi 10.
Adrian berhasil menempati posisi kedua pada heat pertama kelas bracket 12 detik dengan catatan waktu 12,347 detik.
Sesaat setelah heat pertama selesai hujan lebat mengguyur Sentul International Circuit siang itu dan menyebabkan panitia harus menunda heat kedua hingga lintasan kering, namun hujan lebat tersebut berlangsung hingga sore hari dan panitia pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan catatan waktu heat pertama sebagai patokan penilaian. Dan pasukan BFR Indonesia yang berhasil naik podium pada seri terakhir Sentul Drag Racse 2016 yaitu Adrian Paruntu, posisi kedua pada kelas bracket 12 detik dengan catatan waktu 12.347 detik.
See you in 2017 race season BFR Indonesia!
Adhyasaka Hutama
Instagram : @adhyasaka_h
*Like us on Perfourm Facebook Fanpage
*Follow us on our Twitter and Instagram: @perfourm
*Hashtags your photo with #PERFOURMMACHINEHEAD, and you can be on Perfourm.com
*Hastags your car project with #BUILDTORACE and #BUILDTOPERFOURM, and you can be on Perfourm.com











