Jika dulu-dulu saya pernah liputan RC drift yang penuh dengan adegan sideways nya. Maka kali ini saya tertarik untuk meliput ke dunia RC buggy yang penuh dengan adegan over jump nya dan juga pit stop. Dunia ini baru buat saya, jadi tak salah jika saya feeling so exhausted memphoto mobil yang berukuran 1/8 dari mobil asli. Termasuk kamera 550D saya yang very very Exhausted pol karena menembak sebanyak 1600 kali. Inilah rekor shuter count saya dalam 1 kali liputan. Enaugh i think.
Minggu sore beberapa minggu yang lalu saya di undang oleh salah satu teman saya yang juga anggota club RC Buggy C-Netic Surabaya untuk datang dan meliput event Kejurnas 1/8 RC Buggy di C-Netic Citcuit yang terletak di daerah Wiyung Surabaya barat. Ini adalah salah satu circuit di Indonesia yang memenuhi standart International untuk event RC buggy.
Sirkuit yang dibangun pada tahun 2011 ini mempunyai panjang lintasan kurang lebih 500 meter. Dan disesain oleh Harijono, dengan beberapa jumping miring yang menjadikan sirkuit ini unik dan berbeda dengan sirkuit lainnya di dunia. Best time dari sirkuit yang sesuai dengan standart ARMI (Asosiasi Radio Control Mobil Model Indonesia) dan Internasional ini dipegang oleh Robert Battle dari Spanyol dengan best timenya yaitu 51 detik. Sedangkan untuk nasionalnya dipegang oleh Sigit dari team C-Netic dengan best time 53,303 detik. Sedangkan average lapnya para pembalap disini sekitar 57 detik
Pit atau paddock nya sendiri lebih mirip seperti kantin sekolah lengkap dengan table lunch nya. Dan tak lupa ada satu monitor yang berisi informasi lap pada race tersebut. Event kejurnas 1/8 Buggy GP (gas Power) kali ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang bersal dari Jakarta, Surabaya (25 peserta), Banjarmasin, Jabar, Bandung, Solo, Semarang, Malang, bahkan hingga Medan.
Walaupun tadi saya bilang mirip kantin sekolah dengan table lunch nya, tapi jika di di RC buggy, meja makan Anda akan berubah menjadi bengkel atau meja kerja Anda.
Lupakan soal bakso, gorengan, es sirup, ataupun kerupuk Anda. Mari kita beralih ke makan siang kita dengan seperangkat tools kit. Sepertinya ada seseorang yang habis mengoperasi sesuatu disini, yah katakanlah ini adalah meja operasi.
Ternyata baru saja ada yang mengoperasi mesin atau dapur pacunya RC buggy yang berupa mesin 3,5 cc 2 tak atau 2 stroke dengan bahan bakar yang terbuat dari nitro methanol (30% nitro).Mau tau harga mesin sekecil ini, hanya 3-4 juta rupiah. Wohaaa….
Sama seperti mobil balap asli dan juga RC model lainnya, RC buggy juga mempunyai beberapa tipe ban yang disesuaikan dengan tracknya. Dan jika setelah race, maka rims dan tires nya akan dibuang, jadi sekali pakai.
Behold of the power. Siapa bilang RC buggy juga tidak bisa memakai racing fuel? Buktinya pabrikan racing fuel asal USA yang kondang di ajang drag race ini juga mensuplai RC buggy dengan salah satu produknya yang bernama VP Powermaster yang berisi 30% nitro. Harga i kaleng ini kurang lebih 400rb hingga 600rb.
Saya pun masuk kedalam sebuah gedung di sebelah pit atau paddock C-Netic Circuit ini dan menemukan satu ruang yang berisikan piala dari berbagai macam kejuraan RC yang bahkan para anggotanya team C-Netic Surabaya sampai tidak hapal jumlahnya. Hanya yang paling di ingat dan dibanggakan oleh team yang beridir pada tahun 2005 ini adalah, salah satu anggotanya pernah menembus hingga babak final di kejuaraan piala Asia Femca ke-11 di Malaysia.
Jadi inilah bentuk dari 1/8 RC Buggy seharga 10- 15 juta untuk versi basicnya.
Dan jika Anda ingin mempunyai mobil yang kompetitif atau like a pro sehingga bisa bersaing dengan RC Buggy dari dalam dan Indonesia lainnya, well sediakan saja budget kurang lebih seharga 1 buah sepeda motor sport baru atau Toyota Corolla DX, alias 20 juta atau lebih.
Banyak brand atau pabrikan RC yang memproduksi mainan yang sekilas cara kerjanya mirip dengan mobil balap asli ini, seperti Yokomo, Mugen, dan Kyoso. Tapi yang menjadi idol atau favorit disini adalah Kyoso. Karena dianggap lebih lincah daripada brand lainnya.
Jika Anda berpikir yang bermain mobil-mobilan remote control ini adalah anak kecil, Anda salah kecil. Karena yang penghoby mainan 1/8 ini adalah ABG alias Angkatan Babe Gue yang rata-rata sudah berkeluarga dan berprofesi sebagai pengusaha. Mulai dari umur 13 hingga 50 tahunan ini para penggemarnya mempunyai alasan lebih safety dan ga ada resikonya.
Termasuk juga salah satu drag racer nasional kita yang biasa berada behind the wheels of 9,9 seconds Evo VIII (FFA class), kini berada dibalik remote sebuah mobill yang 1 banding seperjuta tenaganya dengan evo drag race nya. Meet Faisal Ali.
Sirkuit ini juga dilengkapi dengan computer room berstandart international, begitu juga timernya.
Biasanya setiap pembalap akan membawa 2 orang crew yang terdiri dari mekanik dan crew nya pada pit yang letaknya pas dibawah tower pembalap. Setingan akhir pun dilakukan oleh sejumlah mekanik pada engine 3,5 cc ini.
Sehingga bisa menghasilkan tarikan yang spontan saat diajak melahap lintasan sepanjang 500 meter yang penuh dengan over jump.
Para peserta diberikan 1 lap untuk melakukan warming up, sebelum race resmi. Is that Daft Punk ? Yang dibackgroundnya.
Hell no. Ini bukan electro band Daft Punk. Tapi ini adalah Marshal dari circuit yang bertugas untuk membantu para pembalap membalikan mobilnya jika terguling di tengah lintasan. Mirip seperti petugas pengambil bola tenis. Tapi mengapa memakai helm? Anda tentu tak ingin mainan seberat 7,5 kg dan mampu berlari sekitar 70 km/jam lompat ke muka Anda.lol.
Sementara di Pit nya, lebih mirip seperti pit nya F1. Ada fuel, ban, dan juga tools kit. Sepertinya ini akan menjadi liputan yang menarik sewaktu pit stop.
Setelah melakukan warming up lap, RC pun kembali masuk ke dalam pit. Beberapa saat kemudian para crew membawa rc tersebut ke tepi lintasan atau garis start memulai race. Tetapi biasanya para crew menambahkan lagi racing fuel kedalam tangki rc ini (fuel tank 125 cc).
Jika Anda pernah melihat Retro race atau balap mobil jadul atau touring kelas retro, maka cara startnya hampir sama.
Yaitu posisi startnya dari sisi tepi garis start bukan di grid start atau garis start di tengah lintasan
Begitu bendera start dikibarkan seketika tengah lintasan ini berubah menjadi kawasan fogging demam berdarah, beserta suaranya yang khas mesin 2 tak. Rules racenya adalah 3 kali QTT atau heeat selama 10 menit untuk menentukan posisi final. Lalu dilanjutkan pada ½ final, ¼ final, 1/8 final dan seterusnya dilakukan kurang lebih masing-masing 20 menit (20-21 lap). Lalu pada babak final dilakukan race sepanjang 1 jam atau kurang lebih 66 lap.
Sayangnya lensa kamera saya kurang memadai , yaitu hanya 15-55mm. Andaikata saya memakai lensa tele maka hasilnya akan terlihat seperti balap mobil sungguhan, ya katakanlah rombongan F1 yang masuk ke dalam R1 atau tikungan pertama.
Beberapa rc ini pun langsung tancap gas menuju R1 dan juga sebuah super bowl atau over jump yang tepat berada di R1 ini. Saya jadi serasa liputan WRC atau Pikes Peak di USA jika melihat gambar ini.
Ini lah yang membuat C-Netic Circuit ini berbeda dengan sirkuit rc buggy lainnya di dunia, over jump nya terletak di tikungan.
Dan memaksa para pembalapnya untuk bisa mengatur racing line dan throttle ketika akan memasuki R1, juga ketika mulai memasuki over jump. Dan jangan lupa landing positition nya. Kira-kira jarak jurang dari lompatan 1 hingga landing, sekitar 6-7 kaki orang dewasa.
Ada tenaga dan posisinya pas, sehingga ketika take off posisinya sempurna.
Ada yang hella fail atau gagal
Ada yang juga sukses mengudara. Houston we have lift off….
Sementara saya tidak bergerilya di tengah medean pertempuran, karena tidak boleh, dan juga tidak mau mati konyol karena takut ada rc nyasar. Saya pun memutuskan untuk naik ke atas tower tempat para pembalap nya berada. And love’s this club, short pant and sneakers club. Dari atas tower ini para pembalap mengendalikan laju rc buggy dengan menggunakan sebuah remote control. Setiap race biasanya tower ini diisi oleh 12-15 pembalap.
Satu hal yang paling saya suka dan nikmatin sewaktu meliput lomba rc ini adalah aksi over jumpnya. Saya serasa meliput sebuah event rally atau X-games, yang dilengkapi dengan over jump besar. It’s a bird..it’s a plane..no..it’s a buggy wuggy.
Cabin crew, landing positition. Jika tadi kita sudah melihat take off atau airbone nya, kali ini kita akan melihat landing positition nya. Mobil sudah mulai off throttle atau tidak di gas lagi.
Mulai mendekati runaway.
Sedikit lagi…. upss sory kebablasan pemirsa.
Nice landing captain…
Atau mungkin ada juga pilotnya yang memakai sim nembak, sehingga dari mau take off saja sudah mulai mengantam ujung over jump.
Dan menyebabkan rc nya bukan terbang tetapi malah terbalik. Kalo sudah kaya gini, satu-satunya orang yang membantu adalah si daft punk tadi (marshal pinggir lintasan).
Karena over jump atau melompat lurus kedepan sudah terlalu mainstream, bagaimana kalo melompat mundur. Saya tak habis pikir bagaimana rc ini bisa back flip 180 derajat. Go home rc, your drunk.
Begitu landing, rc pun langsung melesat belok ke arah kanan> disini bisa dilihat bahwa set up suspensionnya sangat mirip dengan coilover mobil. Bahkan juga sewaktu landing menyerap getaran.
Rc pun mulai measuki tikungan terakhir sebelum akhirnya masuk ke garis finish.
Dan sekali lagi, para pembalap pun dihadapkan kepada sebuah over jump yang tepat berada di depan tikungan. Jadi pengaturan racing line dan throttle gas sangat menantang di sirkuit sepanjang 500 meter ini.
Beberapa mungkin karena sudah mulai mengambil ancang-ancang dari jauh dengan full throttle ketikan akan membelok lalu over jump, ternyata harus berakhir dengan nyungsep di tepi lintasan.
Bagi beberapa yang berhasil melewati rintangan ini, bisa mengudara dengan sempurna.
And flying without wing. Bahkan Anda bisa melihat tower pembalap dari sini.
I wonder, bagaimana rasanya jadi pembalap di dalam mobil tersebut. Seperti kita perlu tanyakan kepada Arya “The flying kid” Karistianto dan navigatornya Ginanjar dari AB Motorsport Rally Team Jakarta.
Tapi jika jungkir balik seperti kura-kura atau kecoa yang terbalik ini, satu-satunya harapan Anda hanya pada si marshal ini.
Begitu berhasil landing dan keluar dari tikungan terkahir sebelum garis finish, para pembalap pun langsung menggeber rc nya dengan full throttle melewati lintasan lurus sepanjang kurang lebih 50 meter.
Culture atau style rc buugy bisa dibilang hampir sama dengan motorsport yang ga jauh-jauh dari over jump, gravel, dan juga tanah, yaitu Motorcross.
Bisa dilihat dari corak livery khas rc buggy yang sama dengan motorcross, yaitu motif livery yang agresif dan juga warna yang mencolok mata.
Warna yang dipilih juga biasanya warna genjreng atau pastel ala stabillo.
Yang mau simple tapi tetap rock and roll dan juga rebel , bisa menambahkan flame pada bodynya.
Beda dengan warna-warna mobil RC drift yang saya liat sebelumnya, RC buggy mempunyai aliran yang livery yang tidak mainstream, atau warnanya saling bertabrakan. Walaupun kadang kita melihat livery atau warna kuning stabilo ini terlalu norak atau genjreng, namun di dunia motorcrossatau pun freestyle, warna ini adalah warna kebangsaan mereka. Sama seperti warna pink jika Anda sedang fall in love. lol
Atau pun mungkin buat Anda yang sudah mature dan juga woles, bisa memilih livery yang adem ayem ini, seperti milik teman saya Teguh dari team C-Netic Surabaya.
Tapi apapun warnanya, tetap ini adalah sebuah mesin berukuran 1/8 yang dilengkapi dengan mesin 2 tak 3,5 cc.
Dan mampu berlari hingga 70 km/ jam (top speed)
Di pit nya terlihat beberapa crew sedang bersiap-siap disana. Satu orang crew mengawasi rc, sedangkan yang satu laginya mengawasi stop watch. Dan memulai kalkulasi atau perkiraan kapan rc ini masuk kedalam pit untuk melakukan refuel sebelum rc tersebut kehabisan bensin di tengah lintasan. Just for your info, fuel tank 1 tangki rc buggy berisi 125 cc yang bisa dipakai hingga 8 lap. Jadi dalam normal race biasanya mereka melakukan 2-4 kali pit stop (20-21 lap). Tapi jika babak final yang 1 jam race atau 66 lap, mereka akan melakukan 7-8 kali pit stop.
Ketika sudah dirasa waktunya si RC masuk ke dalam pit dan melakukan refuel, maka yang dilakukan oleh si crew di pit ini berteriak keras kepada pembalapnya yang berada di atas tower. Beda dengan F1 yang memakai intercom. Jika beruntung maka cukup dengan sekali teriakan pembalapnya mendengarnya. Tapi jika sedang konsentrasi atau suara ribut, maka ya Anda bisa berteriak berulang kali
And suddenly rc tersebut langsung hard brake, dan mulai memasuki pit line.
Jika di F1 ada lolly pop man, maka di rc buggy ada wave man yang memberikan tanda kepada pembalapnya untuk berhenti pada titik ini.
Begitu mulai mendekati depan pit nya, crewnya langsung mengambil ancang-ancang untuk mengambil rc tersebut. Laju rc ini pun terlihat lambat seperti kalo kita melihat F1 memasuki pit, ya mungkin ada speed pit limit nya.
Begitu sampai atau dekat dengan crewnya, layaknya orang yang menjarah barang, crew tersebut langsung mengambil dengan cepat rc seberat 7,5 kg ini.
Sesegera mungkin langsung merefuel racing fuel dengan cara menyuntik ke dalam tangki yang berkapasitas 125 cc ini.
Jika sedang kena apes, maka sang mekanik atau crewnya melakukan homework lainnya, yaitu mengganti ban.
Tetapi yang lebih apes nya lagi, ketika Anda harus melakukan operasi di pit selagi race sedang berlangsung.
Seperti ketika Anda tahu bahwa Anda habis ditabrak oleh pembalap lain, dan mengetahui bahwa suspension Anda tidak berfungsi dengan baik. Dengan kata lainnya patah. Yang harus Anda lakukan adalah mengganti suspension secepat mungkin. Mengganti suspension mobil asli dengan cepat atau dalam kondisi panic at the disco mungkin sedikit lebih gampang, karena ukuran dan mur atau bautnya cukup besar. Tapi jika rc, Anda sepertinya harus ikut kursus yoga atau setidaknya tangan Anda tidak mengidap tremor. Seperti yang dialami oleh RC milik teman saya Teguh dari team C-Netic ini.
Setelah semuanya ok, it’s time to release the best. Kita akan melihat ancer-ancer nya para crew ini sewaktu melepaskan rc nya. Rc pun sudah mulai diayunkan.
Sudah mulai mendekati lintasan
Seketika langsung dilempar begitu saja dan dengan keras ke are pit line. Kalo Anda meilihat di poto ini mungkin seperti cukuip santai dan ber attitude banget. Tapi jika Anda menyaksikan langsung, sama seperti melempar benda dengan cukup keras. Time is matther my friends.
Lama pit stopnya pun hampir sama dengan F1. Biasanya rc buggy nelakukan pit stop sekitar 10-12 detik, yang terhitung dari mulai memasuki jalur pit, refuel, hingga keluar pintu pit.
Dan sama seperti balapan sirkuit manapun, Anda harus berhati-hati ketika keluar dari area pit dan hendak memasuki lintasan. Karena beberapa rc sedang dalam keadaan full throttle.
Bahkan saking full trottle di lintasan lurus dan bergelombang sepanjang kurang lebih 50 meter ini, beberapa rc bahkan sempat loncat-loncat.
Dan buat beberapa rc lainnya yang set suspensionnya bagus atau pas. Bisa melaju dengan mulus.
Ato mungkin head to head untuk bersaing mendapatkan posisi terbaik mereka
Saya pun tertarik untuk mengambil gambar dengan menyerap energi yang dihasilkan oleh rc yang mampu berlari hingga 70 km/jam ini pada track lurusnya. Dan sekali lagi, saya kalah cepat dengan pergerakan rc tersebut. Apalagi saya menggunakan lens kit standart 550D yang hanya 15-55mm.
Begitu melewati track lurus sepanjang 50 meter ini, rc pun langsung di hadapkan dengan R1 ke kanan. Dan sekali lagi set up suspension terlihat sangat berpengaruh disini, dan juga menurut saya pemilihan bannya juga. Mobil pun langsung menurut ketika diajak berbelok, bahkan tidak sampai oversteer atau melebar mengingat rc ini adalah 4WD atau Four Wheel Drive.
Dan setelah 1 berada di track dan mengetahui rekan satu timnya menang, ya kira-kira reaksinya seperti ini. Boys will always be a boys.
Setelah race berakhir, rc pun dimatikan dengan cara menutup bagian atas mesinnya dengan suatu alat.
Karena ini tracknya off road alias bukan di aspal, jadi ada home wrok lainnya yang harus dikerjakan disini setelah race. Yaitu membersihkan body atau chassingnya.
Sementara di balik area cuci chasing, disediakan pula area untuk membersihkan bagian dalam rc tersebut dengan cara di bersihkan dengan menggunakan angin yang bertekanan tinggi.
Dan akhirnya setelah menyelesaikan race sepanjang 1 jam atau 66 lap. Inilah para pemenang main final A. Juara 1. Edward Joesoef (Solo), juara ke-2. Harijono Santoso (Surabaya), dan juara ke-3 Reza Rakasiwi (Bandung). Tak ada hadiah uang tunai disini, yang ada hanyalah piala dan point nasional dari lomba yang pendaftarannya sebesar 500rb (+makan siang).
Jika di jepang sana ada team Orange yang berlaga di event D1 Grandprix Japan. Maka di Surabaya ada team C-Netic yang memakai livery orange. Jumalh anggotanya 16 orang.
Saya pun mencoba untuk melompat dari satu tanjakan ke tanjakan yang lainnya, ternyata im to old to do this guys. Saya pun gagal, dan ini menjadi epic fail saya selama saya menjadi Superman. Lihat saja sayap superman saya malah menutupi wajah saya. lol
Yah, tidak bisa liputan WRC ataupun Pikes Peak, setidaknya saya bisa merasakan suasana yang sebelas duabelas dengan acara off road tersebut. Bisa jadi saya disuruh sama yang diatas untuk latihan belajar atau adaptasi dengan mobil 1/8 nya s dulu , ebelum bisa memphoto mobil 1/1 nya. Aamiin.
-Bayu Sulistyo |nyonk|
*Like us on our Facebook fanpage
*Follow us on our Twitter and Instagram : @perfourm
























































































